{"id":2343,"date":"2025-12-27T11:09:22","date_gmt":"2025-12-27T11:09:22","guid":{"rendered":"https:\/\/warnamediaonline.com\/?p=2343"},"modified":"2025-12-27T11:09:25","modified_gmt":"2025-12-27T11:09:25","slug":"uk-laba-bank-turun-9-di-2025-skandal-motor-finance-dan-biaya-hukum-menggerus-2026-masih-berkabut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/2025\/12\/27\/uk-laba-bank-turun-9-di-2025-skandal-motor-finance-dan-biaya-hukum-menggerus-2026-masih-berkabut\/","title":{"rendered":"UK: Laba Bank Turun 9% di 2025\u2014Skandal Motor Finance dan Biaya Hukum Menggerus, 2026 Masih Berkabut"},"content":{"rendered":"\n<p>Laba bank-bank besar Inggris dilaporkan <strong>turun 9% sepanjang 2025<\/strong>, tertekan oleh <strong>biaya restrukturisasi, tagihan hukum<\/strong>, dan beban yang terkait dengan <strong>skandal mis-selling pembiayaan kendaraan (motor finance)<\/strong>. Tekanan ini tidak datang di ruang hampa: ia bertumpuk di atas prospek pertumbuhan yang lemah dan kepercayaan bisnis yang rapuh\u2014dua variabel yang biasanya menjadi \u201cbahan bakar\u201d ekspansi kredit. <a href=\"https:\/\/www.thebanker.com\/content\/22dc2382-eb59-46c9-bada-cbe64aef1c31?utm_source=chatgpt.com\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">thebanker.com<\/a><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Skandal motor finance: risiko yang belum selesai<\/h3>\n\n\n\n<p>Skandal motor finance menjadi salah satu kanal risiko yang paling merusak karena ia membawa dua konsekuensi sekaligus: <strong>pembentukan provisi<\/strong> (langsung menekan laba) dan <strong>ketidakpastian besaran kompensasi<\/strong> (membebani ekspektasi pasar). Sejumlah bank sudah mencatat dampak material\u2014misalnya Lloyds yang sempat mencatat penurunan profit kuartalan tajam setelah menanggung charge besar terkait kasus ini. <a href=\"https:\/\/www.ft.com\/content\/b0c82836-b4a9-47a1-9d04-bc47d88cb524?utm_source=chatgpt.com\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Financial Times<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Di tingkat industri, regulator dan pelaku pasar masih berhadapan dengan pertanyaan mahal: <strong>berapa total tagihan redress<\/strong> yang pada akhirnya harus dibayar. Estimasi biaya bisa bergerak mengikuti desain skema kompensasi\u2014bahkan ada laporan yang menyebut potensi biaya dapat lebih tinggi dari perkiraan awal dan dapat mengganggu jadwal pembayaran pada 2026. <a href=\"https:\/\/www.reuters.com\/sustainability\/boards-policy-regulation\/close-brothers-lifts-motor-finance-charge-by-about-180-million-2025-10-14\/?utm_source=chatgpt.com\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Reuters+1<\/a><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Pelonggaran aturan modal BoE: \u201cnapas\u201d untuk bank, tapi belum tentu obat<\/h3>\n\n\n\n<p>Di tengah tekanan laba, Bank of England (BoE) memberi ruang lewat pelonggaran aturan modal\u2014dilaporkan menurunkan benchmark kebutuhan Tier 1 sistem perbankan dari sekitar <strong>14% menjadi 13%<\/strong>. Kebijakan ini dimaksudkan menyeimbangkan ketahanan krisis dengan dorongan pertumbuhan kredit, namun dampak nyatanya tidak instan karena implementasi terkait standar baru disebut efektif <strong>mulai 2027<\/strong>. <a href=\"https:\/\/www.reuters.com\/sustainability\/boards-policy-regulation\/bank-england-eases-bank-capital-requirements-2025-12-02\/?utm_source=chatgpt.com\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Reuters+2Financial Times+2<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Dengan kata lain: pelonggaran modal memberi sinyal \u201crelief\u201d, tetapi <strong>2026 tetap ditentukan oleh<\/strong> (1) arah suku bunga, (2) kualitas aset\/credit losses, (3) biaya litigasi &amp; redress motor finance, dan (4) permintaan kredit dari sektor riil.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">\u201cFuture investigation\u201d: 3 pertanyaan yang akan menentukan 2026<\/h3>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Apakah redress motor finance jadi \u201cone-off hit\u201d atau berubah menjadi beban bertahap?<\/strong><br>Jika skema kompensasi meluas atau formula redress diperdebatkan, provisi bisa bertambah dan memukul laba beberapa kuartal. <a href=\"https:\/\/www.reuters.com\/sustainability\/boards-policy-regulation\/close-brothers-lifts-motor-finance-charge-by-about-180-million-2025-10-14\/?utm_source=chatgpt.com\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Reuters+1<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Seberapa jauh margin bank tertekan saat suku bunga turun?<\/strong><br>Jika penurunan suku bunga mempercepat kompresi margin, bank butuh mengganti profit dengan fee-based income\u2014yang biasanya sulit ketika aktivitas bisnis lesu.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Apakah pelonggaran modal benar-benar mendorong kredit produktif?<\/strong><br>Modal longgar tidak otomatis jadi kredit baru jika perusahaan menahan ekspansi karena <strong>kepercayaan bisnis rendah<\/strong>. Dalam skenario ini, \u201crelief\u201d modal bisa lebih banyak berakhir sebagai penyangga risiko, bukan pengungkit pertumbuhan.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Implikasi kebijakan ketika stabilitas dipakai untuk mengejar pertumbuhan<\/h3>\n\n\n\n<p>Pelonggaran modal oleh bank sentral selalu mengandung trade-off: <strong>dorongan ke kredit<\/strong> vs <strong>persepsi penurunan kehati-hatian pasca-krisis<\/strong>. Debat ini kembali menguat\u2014bahkan di Inggris, isu \u201cgrowth vs resilience\u201d muncul seiring keputusan BoE tersebut. <a href=\"https:\/\/www.theguardian.com\/business\/2025\/dec\/02\/boe-capital-rules-banks-growth-bank-of-england-stress-tests?utm_source=chatgpt.com\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">The Guardian+1<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Laba bank-bank besar Inggris dilaporkan turun 9% sepanjang 2025, tertekan oleh biaya restrukturisasi, tagihan hukum, dan beban yang terkait dengan skandal mis-selling pembiayaan kendaraan (motor finance). Tekanan ini tidak datang di ruang hampa: ia bertumpuk di atas prospek pertumbuhan yang lemah dan kepercayaan bisnis yang rapuh\u2014dua variabel yang biasanya menjadi \u201cbahan bakar\u201d ekspansi kredit. thebanker.com [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[180],"tags":[],"class_list":["post-2343","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2343","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2343"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2343\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2345,"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2343\/revisions\/2345"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2343"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2343"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2343"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}