{"id":2291,"date":"2025-12-26T02:57:27","date_gmt":"2025-12-26T02:57:27","guid":{"rendered":"https:\/\/warnamediaonline.com\/?p=2291"},"modified":"2025-12-26T02:57:31","modified_gmt":"2025-12-26T02:57:31","slug":"dari-resilience-ke-jobs-membaca-arah-strategi-world-bank-pasca-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/2025\/12\/26\/dari-resilience-ke-jobs-membaca-arah-strategi-world-bank-pasca-2025\/","title":{"rendered":"Dari Resilience ke Jobs: Membaca Arah Strategi World Bank Pasca-2025"},"content":{"rendered":"\n<p>Ringkasan <em>The World Bank Group Wrapped: 2025<\/em> menegaskan satu pergeseran penting: <strong>agenda ketahanan (resilience) tidak lagi diperlakukan sebagai tujuan akhir<\/strong>, melainkan sebagai <strong>pra-syarat<\/strong> bagi pembangunan yang lebih produktif\u2014khususnya <strong>penciptaan lapangan kerja<\/strong>. Dalam konteks ini, <em>smart development<\/em> menjadi kerangka operasional untuk menghubungkan stabilitas makro dengan transformasi struktural.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Resilience sebagai Pra-Syarat, Bukan Garis Akhir<\/h3>\n\n\n\n<p>Selama beberapa tahun terakhir, kebijakan pembangunan global cenderung defensif\u2014berfokus pada mitigasi guncangan (pandemi, konflik, iklim). Pada 2025, Bank Dunia memberi sinyal bahwa <strong>ketahanan makro harus \u201cdibayar\u201d dengan reformasi mikro<\/strong>: penguatan institusi, efisiensi belanja, dan kapasitas implementasi. Tanpa itu, resilience hanya menunda krisis, bukan mengurangi kerentanannya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Smart Development: Reformasi yang Terukur<\/h3>\n\n\n\n<p><em>Smart development<\/em> menekankan <strong>selektivitas kebijakan<\/strong>: investasi publik diarahkan ke sektor ber-multiplier tinggi, reformasi regulasi difokuskan pada hambatan investasi produktif, dan teknologi diposisikan sebagai pengungkit efisiensi, bukan substitusi tenaga kerja. Kerangka ini menuntut <strong>disiplin kebijakan<\/strong>\u2014memilih program yang paling berdampak pada produktivitas dan pekerjaan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Jobs sebagai Outcome Kebijakan, Bukan Efek Samping<\/h3>\n\n\n\n<p>Penempatan <strong>jobs<\/strong> sebagai prioritas menandai perubahan logika: pekerjaan tidak lagi diasumsikan \u201cmengikuti\u201d pertumbuhan, tetapi <strong>harus dirancang<\/strong>. Ini berarti kebijakan pendidikan\u2013keterampilan, iklim usaha, dan pembiayaan UMKM perlu disinkronkan. Risiko terbesarnya adalah <em>jobless resilience<\/em>: ekonomi stabil, tetapi pasar kerja stagnan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Implikasi ke Negara Berkembang (termasuk Indonesia)<\/h3>\n\n\n\n<p>Bagi negara berkembang, pesan kebijakan Bank Dunia relevan namun menantang. Stabilitas makro perlu diterjemahkan ke <strong>reformasi sektoral yang konkret<\/strong> (manufaktur bernilai tambah, jasa modern, ekonomi hijau). Tanpa reformasi implementatif, fokus pada jobs berpotensi berhenti di level program, bukan hasil.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Agenda 2025 Bank Dunia menggeser fokus dari <em>survival<\/em> ke <em>delivery<\/em>. Tantangan ke depan bukan lagi \u201capakah ekonomi bertahan\u201d, melainkan <strong>apakah kebijakan mampu menciptakan pekerjaan yang produktif dan berkelanjutan<\/strong>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ringkasan The World Bank Group Wrapped: 2025 menegaskan satu pergeseran penting: agenda ketahanan (resilience) tidak lagi diperlakukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai pra-syarat bagi pembangunan yang lebih produktif\u2014khususnya penciptaan lapangan kerja. Dalam konteks ini, smart development menjadi kerangka operasional untuk menghubungkan stabilitas makro dengan transformasi struktural. Resilience sebagai Pra-Syarat, Bukan Garis Akhir Selama beberapa tahun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","enabled":false},"version":2}},"categories":[177],"tags":[],"class_list":["post-2291","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-analisis"],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2291","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2291"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2291\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2292,"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2291\/revisions\/2292"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2291"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2291"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/warnamediaonline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2291"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}