Jakarta, 21 Februari 2026 — Ketika kecerdasan buatan (AI) terus mengambil alih berbagai tugas pekerjaan, kekhawatiran soal hilangnya lapangan kerja kembali mencuat. Namun, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa profesi-profesi yang pernah diprediksi musnah oleh teknologi justru terbukti lebih tahan banting dari yang diperkirakan, sebuah pelajaran penting ketika dunia memasuki fase baru otomasi dan AI.
Dalam artikel terbaru yang dipublikasikan oleh World Economic Forum, penulis mencatat bahwa sepanjang sejarah, profesi-profesi yang tampak terancam oleh teknologi mulai dari pekerja kereta api saat revolusi industri sampai pekerja kantor di era komputer tidak benar-benar lenyap. Banyak dari mereka bertransformasi, berpindah fungsi, atau bahkan mendapat nilai tambah baru, alih-alih punah total.
Tantangan AI Lebih Kompleks
Namun, AI berbeda dari gelombang teknologi sebelumnya. Ia mampu melakukan pekerjaan kognitif kompleks, bukan hanya tugas fisik atau mekanis. “Revolusi AI ini akan mengubah tugas dan profesi dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis WEF dalam komentarnya, sambil mencatat bahwa hasilnya mungkin tidak selalu positif untuk semua pekerja.
Selain itu, laporan terpisah menunjukkan bahwa sampai 40% keterampilan pekerja di seluruh dunia mungkin perlu ditransformasi atau menjadi usang dalam kurun 2025-2030, sehingga kebutuhan akan reskilling dan upskilling meningkat tajam.
Sejarah Menjadi Petunjuk, Bukan Jaminan
Sejarah ketahanan profesi terhadap gangguan teknologi memberikan dua pelajaran penting:
- Adaptasi lebih penting daripada resistensi
Profesi yang bisa menyerap teknologi, bukan menolaknya, cenderung bertahan lebih lama. - Skill yang fleksibel akan bernilai lebih tinggi
Kemampuan yang komplementer dengan AI—seperti kreativitas, pengambilan keputusan, dan kemampuan interpersonal—tidak mudah digantikan.
Dalam konteks ekonomi, pekerjaan yang dulunya diprediksi segera hilang justru berkembang sebagai bentuk baru yang lebih kompleks. Sistem pendidikan dan pelatihan harus menyesuaikan target kompetensinya, bukan sekadar mempertahankan struktur lama.
Implikasi Kebijakan Publik
Fenomena ini memiliki implikasi jangka panjang bagi pembuat kebijakan:
- Investasi dalam keterampilan transformatif harus diprioritaskan.
Menurut riset WEF lainnya, produktivitas teknologi bergantung pada diffusi keterampilan yang lebih luas, bukan hanya ketersediaan alat teknologi itu sendiri. - Jaring pengaman sosial perlu disiapkan untuk pekerja yang terganggu struktural, terutama mereka yang sangat rentan terhadap penghapusan tugas rutinitas. Kebijakan seperti reskilling programs, subsidi pendidikan, dan dukungan transisi kerja menjadi kunci.
- Pendekatan kolaboratif antara sektor publik dan swasta mutlak diperlukan untuk memperluas akses peluang baru dan menutup jurang ketimpangan keterampilan.
Risiko Jika Dibiarkan
Tanpa strategi yang tegas, disrupsi oleh AI dapat memperlebar ketimpangan sosial dan menciptakan lapangan kerja yang semakin polarisatif. Sebuah skenario masa depan bahkan memperingatkan bahwa kemajuan AI tanpa kesiapan tenaga kerja dapat melahirkan “ekonomi terfragmentasi” di mana sebagian peserta pasar tenaga kerja justru kehilangan akses terhadap pekerjaan bernilai tambah.