Jakarta — Dalam diskursus global seputar kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan masa depan pekerjaan, narasi mengenai “AI akan mengambil alih pekerjaan manusia” sering terdengar. Namun, catatan sejarah menunjukkan gambaran yang lebih kompleks dan memberi harapan: banyak profesi yang dulunya dianggap akan punah akibat teknologi justru terbukti tahan atau mengalami transformasi fungsi yang tetap relevan.
Artikel terbaru dari World Economic Forum menyoroti sejumlah contoh dari sejarah perkembangan teknologi yang menunjukkan bahwa ancaman teknologi terhadap pekerjaan sering dibesar-besarkan. Contohnya, profesi bank teller pernah diprediksi hilang seiring munculnya mesin otomatis dan layanan digital perbankan. Faktanya, pekerjaan ini tetap ada dan diproyeksikan terus berlanjut di Amerika Serikat dalam dekade mendatang.
Hal serupa terjadi pula dalam sektor pariwisata dan layanan profesional lainnya. Jumlah agen perjalanan diperkirakan meningkat meskipun sebagian besar konsumen sudah melakukan pemesanan melalui platform digital, sementara tenaga medis seperti ahli radiologi tetap dibutuhkan untuk dialog dan interpretasi hasil pemeriksaan yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin.
Sejarah ini bukan sekadar nostalgia. Dalam konteks AI yang makin matang, kerangka kerja masa depan pekerjaan perlu memadukan automasi dengan keahlian manusia. Banyak analis menekankan bahwa pekerjaan yang mengandalkan keterampilan manusia seperti empati, kreativitas, dan pemahaman pengalaman hidup cenderung lebih tahan terhadap pergeseran teknologi. CEO Recording Academy Harvey Mason Jr. misalnya menegaskan bahwa meskipun AI dapat menghasilkan musik, karya yang benar-benar menggugah tetap berasal dari pengalaman manusia.
Di sisi lain, narasi optimisme tersebut disertai catatan kritis: tidak semua orang akan berhasil beradaptasi. Nobel Laureate Christopher Pissarides menyatakan bahwa dampak AI terhadap tenaga kerja sangat heterogen artinya kelompok pekerja tertentu akan terdampak lebih berat daripada yang lain.
Apa Artinya untuk Pekerja di Era AI?
Rekaman sejarah ini mengingatkan bahwa meskipun AI diperkirakan akan merombak tatanan pekerjaan, resiliensi dan adaptasi manusia tetap menjadi faktor kunci. Pekerjaan tidak serta-merta hilang; mereka berubah seiring munculnya kebutuhan baru yang tak bisa diotomatisasi. Kecerdasan, keterampilan interpersonal, dan pengalaman menjadi komponen yang sulit direplikasi oleh mesin.
Tantangan ke depan bukan hanya teknologi itu sendiri, tetapi bagaimana pekerja, pelaku industri, dan pembuat kebijakan memetakan strategi adaptasi sehingga komunitas kerja dapat berkembang, bukan tergerus.