Jakarta — Otoritas moneter Indonesia melalui Bank Indonesia menargetkan perluasan implementasi QRIS lintas negara menuju 2026. Setelah sebelumnya terhubung dengan Jepang, sistem pembayaran berbasis QR tersebut kini disiapkan untuk ekspansi ke Tiongkok, Korea Selatan, dan India.
Target yang dipasang tidak kecil. Hingga 2026, QRIS diproyeksikan mampu mencatat 17 miliar transaksi, menjangkau 8 negara mitra, serta melibatkan 45 juta merchant dan 60 juta pengguna di dalam negeri. Angka tersebut mencerminkan ambisi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam ekosistem pembayaran digital regional.
Dari Inklusi Domestik ke Integrasi Regional
Sejak diluncurkan, QRIS berperan penting dalam memperluas inklusi keuangan domestik, terutama bagi pelaku UMKM. Namun, ekspansi lintas negara membawa dimensi baru: interoperabilitas sistem pembayaran, harmonisasi regulasi, serta integrasi infrastruktur keuangan antarotoritas.
Kerja sama dengan Jepang sebelumnya menjadi uji coba penting. Keberhasilan implementasi tersebut membuka peluang perluasan ke negara dengan volume transaksi wisata dan perdagangan tinggi seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan India. Jika terealisasi, QRIS tidak lagi sekadar instrumen domestik, melainkan bagian dari arsitektur pembayaran Asia.
Tantangan Teknis dan Geopolitik
Ekspansi ini tidak hanya persoalan teknis. Integrasi sistem pembayaran lintas negara memerlukan:
- penyelarasan standar keamanan siber,
- mekanisme settlement lintas mata uang,
- kepastian hukum perlindungan konsumen,
- serta koordinasi kebijakan moneter dan sistem pembayaran.
Di tengah dinamika geopolitik dan persaingan teknologi finansial global, perluasan QRIS juga beririsan dengan agenda de-dolarisasi transaksi regional dan penguatan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral.
Dampak Ekonomi ke Depan
Jika implementasi berjalan efektif, potensi dampaknya signifikan:
- menekan biaya transaksi lintas negara,
- mempermudah belanja wisatawan asing,
- memperkuat UMKM berbasis digital,
- serta meningkatkan daya saing sistem pembayaran Indonesia.
Namun, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh jumlah negara yang terhubung, melainkan oleh kesiapan infrastruktur domestik, literasi digital, serta daya tahan sistem terhadap risiko keamanan dan gangguan operasional.
Menunggu Implementasi Konkret
Hingga saat ini, ekspansi QRIS ke Tiongkok, Korea Selatan, dan India masih dalam tahap persiapan. Publik menantikan kejelasan timeline implementasi, model kerja sama teknis, serta mekanisme konversi nilai tukar dalam transaksi lintas yurisdiksi.
Menuju 2026, pertanyaan kuncinya bukan lagi apakah QRIS bisa meluas, melainkan apakah integrasi tersebut mampu memperkuat kedaulatan sistem pembayaran nasional di tengah lanskap keuangan digital global yang semakin kompetitif.