Januari 2026 . Perekonomian global memasuki fase baru yang ditandai oleh percepatan disrupsi teknologi. Namun, di tengah perubahan tersebut, perempuan masih tertinggal dalam partisipasi di sektor-sektor yang diproyeksikan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi masa depan, khususnya bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).

Analisis terbaru menunjukkan bahwa permintaan keterampilan di bidang kecerdasan buatan (AI), data, dan teknologi digital meningkat pesat, sementara keterwakilan perempuan—terutama di negara berkembang—masih relatif rendah. Kondisi ini berpotensi menghambat ketahanan ekonomi dan memperlebar ketimpangan kesempatan kerja di era digital.

Sejumlah pakar menilai bahwa investasi yang berorientasi gender (gender-intentional investment) menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Pendekatan ini mencakup upaya memperluas akses perempuan ke pendidikan STEM, program reskilling dan upskilling untuk menghadapi kebutuhan AI, serta persiapan tenaga kerja perempuan di pasar negara berkembang yang kerap menghadapi hambatan struktural.

Implikasi Kebijakan bagi Pertumbuhan Inklusif

Meningkatkan partisipasi perempuan dalam sektor-sektor masa depan tidak hanya dipandang sebagai isu kesetaraan, tetapi juga sebagai kepentingan ekonomi strategis. Pasar tenaga kerja yang gagal mengintegrasikan perempuan berisiko mengalami perlambatan produktivitas dan melemahnya daya saing nasional di tengah transformasi digital.

Model investasi dan kebijakan yang berfokus pada gender termasuk pelatihan berbasis kebutuhan industri, jaringan mentoring, serta praktik rekrutmen yang inklusif dinilai dapat memperluas peluang kerja sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan yang inklusif.

Namun demikian, para pengamat menekankan bahwa tanpa kerangka kebijakan yang jelas dan komitmen investasi jangka panjang, kemajuan partisipasi perempuan berpotensi tertinggal dari laju perkembangan teknologi itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *