Jakarta, Januari 2026 . Di tengah ledakan adopsi kecerdasan buatan (AI) di berbagai sektor organisasi, sebuah tantangan baru muncul: bukan siapa yang cepat mengadopsi AI pertama, tetapi siapa yang mampu mendesain ulang proses kerja secara fundamental sehingga AI benar-benar terintegrasi dalam operasi sehari-hari.
Itulah inti argumen yang disampaikan Matthew Fitzpatrick, CEO Invisible Technologies, dalam artikel yang diterbitkan World Economic Forum pada 12 Januari 2026. Menurutnya, keberhasilan AI bukan ditentukan pada kemampuan model atau kecepatan adopsi, tetapi pada cara AI dibangun ke dalam alur kerja yang sudah ada.
AI di Perusahaan: Tantangan Integrasi, Bukan Kemampuan Model
Fitzpatrick menekankan bahwa banyak organisasi saat ini masih berjuang untuk mengalihfungsikan potensi AI dari proyek eksperimen ke hasil bisnis yang nyata. Meski model AI kini mampu melakukan penelitian, pemrosesan bahasa, dan pengambilan keputusan pada tingkat yang mengesankan, penerapannya sering tertahan di “silo teknologi” yang terpisah dari fungsi operasional utama.
Sumber internal riset menunjukkan hanya sekitar 5% proyek AI kustom mencapai produksi di lingkungan perusahaan karena hambatan integrasi ke dalam workflow yang kompleks dan kebutuhan data yang terstandarisasi.
Peran “Forward-Deployed Engineer” di Lini Depan
Dari situ muncul pergeseran paradigma: alih-alih mengandalkan tim teknologi terpusat di unit IT, perusahaan mulai menempatkan engineer di garis depan operasional, tepat di samping domain ahli yang memahami proses inti organisasi. Fitzpatrick menyebut peran ini sebagai “forward-deployed engineer” — insinyur yang bekerja langsung dengan tim yang mengelola hasil kerja.
Dengan berada dekat dengan tim lini depan, engineer ini dapat:
- mendesain dan menyempurnakan workflow berbasis AI sesuai konteks nyata;
- mempersingkat umpan balik proses kerja;
- serta memastikan governance (tata kelola) dan verifikasi manusia terjelin sejak awal.
Menurut indikator pasar tenaga kerja, permintaan akan posisi ini meningkat lebih dari 800% sepanjang 2025, menandakan evolusi bagaimana nilai AI diharapkan terwujud di lapangan kerja.
Integrasi AI = Redesign Kerja
Ruang utama kesuksesan AI, ujar Fitzpatrick, bukan hanya di pemodelan atau kode, melainkan pada redesign kerja bagaimana proses, tanggung jawab, dan kontrol digabungkan ulang untuk menciptakan sistem kerja yang luwes dan berbasis AI dari awal.
“Future of work in a generative AI world will not be defined by who adopts AI first. It will be defined by who reimagines how work gets done.”
Ini berarti organisasi yang ingin unggul tidak cukup menjadi cepat dalam mengadopsi teknologi, tetapi harus merevolusi cara kerja internal agar AI tidak hanya menjadi tambahan, tetapi menjadi elemen fundamental dalam proses kerja.