Tujuh tahun sejak diluncurkan, Global Lighthouse Network (GLN) menunjukkan peran strategis dalam mendorong transformasi manufaktur dan rantai pasok global. Inisiatif yang digagas oleh World Economic Forum ini awalnya menghubungkan 16 pabrik percontohan, dan kini telah berkembang menjadi 223 lokasi manufaktur dan supply chain yang tersebar di lebih dari 30 negara.
Ekspansi tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan industri global terhadap ketahanan operasional (resilience) dan transformasi berbasis teknologi, terutama di tengah tekanan geopolitik, disrupsi rantai pasok, dan ketidakpastian ekonomi global. Situs-situs yang tergabung dalam GLN dikenal sebagai Lighthouses diposisikan sebagai contoh praktik terbaik dalam penerapan teknologi digital, otomatisasi, dan tata kelola operasi modern.
Menurut laporan terbaru WEF, GLN tidak hanya berfungsi sebagai jaringan berbagi praktik unggulan, tetapi juga sebagai mesin pembangun kapabilitas bagi industri. Transformasi yang dilakukan para Lighthouse disebut mampu menciptakan dampak berskala besar, mulai dari peningkatan produktivitas, efisiensi energi, hingga fleksibilitas rantai pasok dalam merespons krisis.
Ketahanan sebagai Arah Baru Industri
Perkembangan GLN menandai pergeseran paradigma manufaktur global: dari sekadar efisiensi biaya menuju ketahanan dan adaptabilitas jangka panjang. Di tengah volatilitas global, kemampuan untuk merespons gangguan dengan cepat kini dipandang sebagai keunggulan strategis, bukan lagi pelengkap.
Bagi negara berkembang dan pelaku industri di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, perluasan GLN juga membuka peluang pembelajaran institusional. Model Lighthouse menunjukkan bahwa transformasi digital tidak harus berskala eksperimental, tetapi dapat diimplementasikan secara sistemik dan berdampak luas.
Implikasi Kebijakan dan Industri
Ke depan, keberlanjutan GLN akan sangat bergantung pada dukungan kebijakan industri, investasi teknologi, serta penguatan sumber daya manusia. Tanpa kerangka kebijakan yang mendukung, adopsi praktik Lighthouse berisiko terhenti sebagai proyek unggulan yang terisolasi.
Dalam konteks kebijakan publik, pengalaman GLN memberi sinyal bahwa resiliensi industri bukan semata isu teknis perusahaan, melainkan agenda strategis nasional yang memerlukan kolaborasi antara sektor publik, industri, dan lembaga global.