Jakarta . Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak lagi sekadar peningkatan teknologi, melainkan menuntut perubahan pola pikir yang mendasar dalam kepemimpinan dan tata kelola organisasi. Hal ini disoroti oleh World Economic Forum (WEF) dalam sebuah ulasan kebijakan terbaru.
Menurut WEF, AI berpotensi mengubah cara organisasi mengambil keputusan dan menciptakan nilai, bukan hanya melalui otomasi, tetapi juga melalui integrasi kecerdasan berbasis data di seluruh proses bisnis. Perubahan tersebut, kata WEF, hanya dapat tercapai jika kepemimpinan, budaya organisasi, dan strategi pengelolaan talenta diselaraskan secara menyeluruh.
WEF menekankan bahwa keberhasilan adopsi AI sangat bergantung pada fondasi data yang terintegrasi, kejelasan peran dan tata kelola, serta tingkat kepercayaan di dalam organisasi. Tanpa visi bersama dan mekanisme pengambilan keputusan yang adaptif, implementasi AI berisiko terfragmentasi dan tidak memberikan dampak strategis.
Pergeseran dari Teknologi ke Tata Kelola
Ulasan tersebut menyoroti bahwa banyak organisasi masih memandang AI sebagai proyek teknologi semata. Padahal, AI menuntut perubahan dalam struktur organisasi, pembagian kewenangan, serta akuntabilitas pengambilan keputusan. Model kepemimpinan hierarkis yang kaku dinilai kurang responsif terhadap kebutuhan organisasi berbasis kecerdasan data.
WEF juga menggarisbawahi pentingnya kepercayaan baik terhadap data, sistem AI, maupun proses pengambilan keputusan sebagai prasyarat utama bagi organisasi yang ingin menskalakan AI secara efektif.
Implikasi Kebijakan dan Organisasi
Bagi sektor publik maupun korporasi, temuan ini membawa implikasi kebijakan yang luas. Tanpa pembaruan model kepemimpinan dan tata kelola, investasi AI berpotensi menghasilkan ketimpangan kapasitas, risiko etika, serta kegagalan integrasi lintas unit. Sebaliknya, organisasi yang menyelaraskan strategi AI dengan reformasi kepemimpinan dinilai lebih siap membangun enterprise berbasis kecerdasan.
WEF mengajak para pemimpin organisasi untuk mengevaluasi faktor kunci yang memungkinkan skalabilitas AI mulai dari kepemimpinan, budaya, hingga tata kelola sebagai bagian dari agenda transformasi jangka panjang.