Kemajuan kecerdasan buatan (AI) tengah mengubah lanskap kreativitas global, terutama di sektor pemasaran dan industri kreatif. Namun, di balik lonjakan efisiensi yang ditawarkan algoritma, muncul kekhawatiran baru: risiko homogenisasi merek dan hilangnya diferensiasi manusiawi.
Sejumlah Chief Marketing Officer (CMO) dan pelaku industri kreatif menilai bahwa ketergantungan berlebihan pada AI berpotensi menghasilkan karya yang seragam, mudah ditiru, dan pada akhirnya mudah dilupakan. Algoritma dinilai unggul dalam mengoptimalkan proses dan mempercepat produksi, tetapi belum tentu mampu menciptakan makna, emosi, dan kejutan yang menjadi inti identitas sebuah merek.
Dalam konteks ini, kreativitas berbasis manusia (human-centred creativity) kembali diposisikan sebagai pembeda utama. AI dapat meniru pola, tetapi nilai merek justru dibangun dari kepekaan terhadap konteks sosial, budaya, dan psikologis ruang yang masih sangat bergantung pada intuisi dan pengalaman manusia.
Kreator Masa Depan: AI-Native dan Human-Native
Diskursus terbaru menyoroti bahwa kreator masa depan tidak cukup hanya melek teknologi. Mereka dituntut untuk menjadi AI-native sekaligus human-native: mampu memanfaatkan AI sebagai alat eksplorasi, bukan sebagai pengganti nalar dan imajinasi manusia. Dalam kerangka ini, teknologi berfungsi untuk memperluas pemahaman tentang kemanusiaan, bukan mereduksinya menjadi sekadar data dan prediksi.
Pendekatan tersebut dinilai krusial untuk menghasilkan inovasi yang tidak hanya berdampak komersial, tetapi juga relevan secara kultural. Tanpa sentuhan manusia, inovasi berbasis AI berisiko kehilangan konteks dan makna dua elemen yang menentukan keberlanjutan merek dalam jangka panjang.
Implikasi Industri dan Agenda Global
Isu ini diperkirakan akan menjadi salah satu fokus pembahasan dalam forum global seperti World Economic Forum 2026, yang akan mengkaji bagaimana AI dapat mendorong dampak ganda: pertumbuhan ekonomi sekaligus nilai budaya. Perdebatan tersebut mencerminkan tantangan yang lebih luas, yakni bagaimana menyeimbangkan efisiensi teknologi dengan kreativitas manusia dalam ekonomi digital.
Bagi industri kreatif dan pembuat kebijakan, pertanyaan kuncinya bukan lagi apakah AI akan digunakan, melainkan bagaimana AI diarahkan. Apakah ia akan menjadi alat standarisasi massal, atau justru katalis bagi ekspresi manusia yang lebih beragam dan bermakna.