– Konsekuensi Global dari Strategi Kekuasaan AS yang Semakin Terbuka

Amerika Serikat. Kebijakan luar negeri pemerintahan Presiden Donald Trump menunjukkan pola yang semakin jelas: kekuatan besar tidak lagi dibatasi oleh norma internasional, melainkan mengklaim hak hampir absolut untuk mengamankan kepentingannya sendiri baik secara ekonomi maupun politik. Ini bukan hanya terjadi di satu tempat, tetapi berimplikasi pada tata dunia pasca-Perang Dingin, terutama terkait hubungan AS dengan sekutu, pesaing strategis, dan aturan global.

Dalam artikel utama pekan ini, The Economist menilai bahwa pendekatan “yang kuat mengambil apa yang mereka bisa” yang kini dipromosikan oleh pemerintahan Trump berpotensi meruntuhkan kapling aturan internasional yang dibangun selama dekade terakhir. Narasi ini muncul tidak jauh dari insiden-insiden terbaru seperti operasi militer yang dipandang kontroversial dan ambisi geopolitik yang semakin tidak terikat pada kerangka hukum internasional.

Donroe Doctrine dan Era Baru Power Politics

Fenomena ini kerap dirangkum dalam istilah “Donroe Doctrine”, yang merupakan permainan kata dari Monroe Doctrine dan nama Trump. Meski sempat dianggap kampanye media, konsep ini mencerminkan semacam kebijakan hemisfer yang menekankan dominasi kekuatan besar atas wilayah strategis, tanpa terikat oleh “aturan global” yang tradisional.

Model ini berlawanan dengan tatanan liberal pasca-1945 yang menekankan supremasi hukum, multilateralisme, dan penyelesaian damai. Bahkan, sejumlah analis internasional memperingatkan bahwa retorika seperti ini berpotensi meningkatkan ketegangan global, karena negara lain mungkin menanggapi dengan memperkuat militer, mengintensifkan rivalitas, atau menegaskan kontrol atas wilayah mereka sendiri.

Dampak pada Sekutu dan Kestabilan Global

Langkah-langkah kebijakan Trump termasuk tindakan luar negeri yang agresif dan klaim dominasi strategis—membuat banyak sekutu dan mitra strategis mempertimbangkan Plan B: memperkuat kerja sama regional serta institusi plurilateral sebagai penyangga ketika kepemimpinan AS menjadi kurang dapat diprediksi atau kurang mendukung tatanan liberal yang telah lama dianut.

Artikel ini menggarisbawahi bahwa praktik kekuasaan semacam itu tidak hanya berdampak terhadap posisi Amerika di dunia, tetapi juga menimbulkan resiko sistemik: keterpurukan norma hukum internasional, peningkatan eksploitasi sumber daya tanpa kontrol multilateral, serta eskalasi ketegangan antara kekuatan besar yang memprioritaskan kekuatan atas konsensus global.


Catatan Redaksi

Artikel ini disusun berdasarkan laporan terbaru dari The Economist, dan menggambarkan tren kebijakan luar negeri Amerika Serikat berdasarkan pola tindakan dan narasi kekuasaan yang berkembang di bawah pemerintahan Donald Trump.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *