Jakarta — Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kerap dipromosikan sebagai teknologi yang akan merevolusi ekonomi, pasar tenaga kerja, dan produktivitas global. Namun, laporan dan analisis terbaru menunjukkan bahwa masa depan AI justru dipenuhi paradoks antara ekspektasi besar dan realitas yang tidak selalu sejalan.
Dalam sebuah artikel yang dirilis oleh World Economic Forum, AI digambarkan sebagai teknologi yang bergerak di banyak arah sekaligus, tanpa lintasan masa depan yang tunggal dan pasti. Alih-alih mengikuti kurva kemajuan yang linier, perkembangan AI dinilai sangat bergantung pada faktor non-teknis, termasuk perilaku manusia, institusi, dan pilihan kebijakan.
Produktivitas Tinggi, Ketidakpastian Tenaga Kerja
Salah satu paradoks utama AI terletak pada relasinya dengan pasar kerja. Di satu sisi, AI menjanjikan lonjakan produktivitas dan efisiensi. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap disrupsi pekerjaan dan ketimpangan keterampilan terus meningkat. Alih-alih menciptakan kepastian, AI justru memperlebar jurang antara optimisme teknologi dan kecemasan sosial.
Paradoks ini diperkuat oleh kenyataan bahwa adopsi AI tidak merata. Sektor dan kelompok tertentu dapat dengan cepat memanfaatkan AI, sementara kelompok lain tertinggal karena keterbatasan akses, literasi digital, atau perlindungan kebijakan.
Efisiensi Digital vs Beban Energi
AI juga sering diposisikan sebagai solusi efisiensi ekonomi. Namun, di balik klaim tersebut, muncul paradoks lain: lonjakan permintaan energi. Model AI berskala besar membutuhkan pusat data, komputasi intensif, dan konsumsi listrik yang signifikan. Dalam konteks transisi energi global, hal ini menimbulkan pertanyaan kebijakan: apakah AI akan menjadi bagian dari solusi keberlanjutan, atau justru menambah beban ekologis baru?
Generasi Muda: Adaptif, tapi Tidak Seragam
Paradoks berikutnya terlihat pada adopsi AI oleh generasi muda. Meski sering diasumsikan sebagai kelompok yang paling adaptif terhadap teknologi, kenyataannya penggunaan AI di kalangan anak muda sangat beragam. Sebagian memanfaatkannya untuk pembelajaran dan kreativitas, sementara sebagian lain hanya menjadi konsumen pasif teknologi.
Hal ini menunjukkan bahwa masa depan AI tidak semata ditentukan oleh kecanggihan sistem, tetapi juga oleh bagaimana manusia memilih untuk menggunakannya.
Masa Depan AI: Teknologi atau Pilihan Manusia?
Analisis WEF menekankan bahwa arah AI ke depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, kekuatan pasar, atau dinamika geo-ekonomi. Faktor agensi manusia, kebiasaan, norma sosial, serta kerangka kebijakan publik justru berperan sama besar bahkan lebih menentukan dalam membentuk dampak AI.
Dengan kata lain, AI bukan sekadar soal “apa yang bisa dilakukan mesin”, melainkan “bagaimana manusia mengizinkannya berperan dalam kehidupan sosial dan ekonomi”.
Implikasi Kebijakan
Bagi pembuat kebijakan, paradoks AI ini menjadi peringatan bahwa pendekatan teknologi-sentris semata tidak memadai. Regulasi, pendidikan, kebijakan ketenagakerjaan, dan tata kelola energi perlu dirancang secara adaptif untuk menghadapi ketidakpastian lintasan AI.
Alih-alih mengejar janji transformasi instan, tantangan kebijakan ke depan adalah mengelola kontradiksi yang melekat pada AI agar teknologi ini tidak hanya efisien secara ekonomi, tetapi juga adil secara sosial dan berkelanjutan secara ekologis.