Lamongan — Bank Indonesia menyoroti praktik pertanian berkelanjutan di Desa Miru, Kabupaten Lamongan, sebagai contoh adaptasi sektor agraris terhadap perubahan ekonomi dan teknologi. Dalam unggahan media sosial resminya, bank sentral menyampaikan pesan bahwa bertani hari ini tidak lagi semata-mata soal bertahan hidup, melainkan tentang beradaptasi dan menyiapkan masa depan.

Desa Miru digambarkan sebagai wilayah yang mengembangkan pertanian organik berbasis keberlanjutan. Dari sawah yang dikelola tanpa pestisida kimia, dihasilkan beras sehat dengan tingkat produktivitas yang disebut terus meningkat. Praktik ini dikaitkan dengan kemauan petani untuk belajar, keberanian melakukan perubahan, serta kolaborasi lintas pihak termasuk pemanfaatan teknologi dalam proses produksi dan pengelolaan pertanian.

Teknologi, Regenerasi Petani, dan Narasi Pembangunan

Dalam narasi yang disampaikan, teknologi diposisikan sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi kerja petani sekaligus membuka peluang bagi generasi muda untuk kembali memandang sektor pertanian sebagai masa depan. Pendekatan ini sejalan dengan wacana pembangunan berkelanjutan yang menempatkan sektor pangan tidak hanya sebagai penyedia kebutuhan dasar, tetapi juga sebagai ruang inovasi ekonomi.

Namun, di balik cerita keberhasilan tersebut, muncul pertanyaan kebijakan yang lebih luas: sejauh mana keterlibatan bank sentral dalam narasi dan ekosistem pertanian berkelanjutan dapat diterjemahkan ke dalam dampak struktural yang berkelanjutan?

Di Antara Moneter, UMKM, dan Ekonomi Hijau

Secara kelembagaan, Bank Indonesia memang memiliki mandat penguatan UMKM dan ekonomi hijau sebagai bagian dari stabilitas makroekonomi jangka panjang. Pertanian berkelanjutan, terutama yang terhubung dengan ketahanan pangan dan inklusi ekonomi desa, sering diposisikan sebagai penopang stabilitas tersebut.

Namun, tantangan ke depan terletak pada konsistensi kebijakan lintas sektor. Tanpa integrasi yang kuat dengan kebijakan pertanian, pembiayaan, dan pasar, praktik baik di tingkat desa berisiko berhenti sebagai etalase program alih-alih menjadi model yang direplikasi secara sistemik.

Implikasi Kebijakan ke Depan

Kasus Desa Miru membuka ruang diskusi tentang peran lembaga moneter dalam mendorong transformasi struktural ekonomi riil. Apakah dukungan naratif dan programatik semacam ini akan diikuti oleh skema pembiayaan yang berkelanjutan, insentif pasar, serta integrasi dengan kebijakan pangan nasional?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan apakah pertanian berkelanjutan benar-benar menjadi bagian dari strategi pembangunan jangka panjang, atau sekadar cerita inspiratif yang berumur pendek di ruang publik digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *