Sumatra Utara, Desember 2025. Selain menewaskan ratusan manusia dan mengguncang ribuan keluarga, banjir dan longsor hebat yang melanda Pulau Sumatra akhir November–Desember ini ikut menyeret orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) semakin dekat ke jurang kepunahan. Betahita+1

Orangutan Tapanuli adalah salah satu kera besar paling langka di dunia, hanya ditemukan di ekosistem Batang Toru dan diperkirakan berjumlah kurang dari 800 individu di alam liar. Wikipedia

Laporan awal dari sejumlah lembaga konservasi dan analisis citra satelit menunjukkan bahwa banjir bandang dan longsor besar telah menghancurkan puluhan ribu hektare hutan di Batang Toru. Kerusakan habitat ini mengakibatkan kematian sejumlah individu orangutan, sementara keberadaan yang tersisa semakin terfragmentasi. Betahita

Menurut kajian para pakar, bencana ekologis seperti ini bisa mendorong angka kematian orangutan Tapanuli mencapai puluhan individu, jauh melebihi tingkat kematian tahunan yang dapat ditoleransi spesies tersebut. Perkiraan awal menunjukkan bahwa antara 6,2% hingga 10,5% populasi mungkin telah hilang akibat bencana ini angka yang bagi spesies dengan reproduksi lambat seperti orangutan Tapanuli merupakan guncangan demografis serius. Wikipedia+1

Deteksi melalui citra satelit mengungkap retakan besar di lanskap pegunungan Batang Toru, dengan tanah longsor yang memanjang lebih dari satu kilometer dan lebar hampir 100 meter, menyapu bersih vegetasi dan melumpuhkan jalur sumber makanan serta tempat berlindung satwa. Betahita

Para ahli konservasi menilai kerusakan habitat ini tidak hanya berdampak pada orangutan, tetapi juga spesies lain yang hidup dalam ekosistem yang sama, seperti harimau Sumatera, siamang, dan tapir. Jika hilangnya habitat terus berlanjut, prospek kelangsungan hidup orangutan Tapanuli makin suram karena keterbatasan ruang gerak dan sumber daya yang tersisa. Betahita

Bencana tersebut juga mempertegas bahwa ancaman kepunahan orangutan Tapanuli tidak datang semata dari bencana alam, tetapi juga dari kerentanan ekologis akibat aktivitas manusia seperti alih guna hutan, pembukaan lahan pertanian dan perkebunan, serta infrastruktur yang memecah fragmentasi hutan. Ekuatorial

Para konservasionis kini menyerukan strategi mitigasi yang lebih kuat, termasuk perlindungan hukum yang lebih ketat terhadap ekosistem Batang Toru, perluasan area konservasi, dan program restorasi habitat. Tanpa langkah‐langkah tersebut, bencana ekologis semacam banjir dan longsor ini bisa menjadi pukulan fatal bagi spesies yang sudah berada di ambang punah. Betahita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *