Pernyataan Donald Trump bahwa Amerika Serikat akan “mengelola” Venezuela setelah penangkapan Presiden Nicolás Maduro bukan sekadar retorika politik luar negeri. Ia adalah pengingat brutal bahwa tatanan global tidak lagi bekerja berdasarkan norma, melainkan berdasarkan kekuatan.
Dan di sinilah masalah Indonesia muncul.
Sebagai negara berkembang yang terus mengulang mantra “netral, non-blok, dan independen”, Indonesia sering kali gagal membaca realitas: netralitas tidak melindungi negara yang ekonominya rentan terhadap guncangan global.
Netralitas Tidak Menahan Harga Minyak
Indonesia boleh tidak ikut campur urusan Venezuela. Tetapi harga minyak tidak pernah netral. Ketika satu negara adidaya secara sepihak mencampuri kedaulatan negara penghasil energi, pasar global tidak menunggu klarifikasi hukum ia bereaksi terhadap ketidakpastian.
Setiap lonjakan atau kejatuhan harga minyak akan langsung:
- menekan APBN melalui subsidi energi,
- menggerus daya beli,
- dan memaksa pemerintah memilih antara stabilitas sosial atau disiplin fiskal.
Di titik ini, Indonesia bukan penonton Indonesia adalah korban tidak langsung.
Ilusi Kedaulatan Ekonomi
Kasus Venezuela membongkar ilusi lama dalam kebijakan ekonomi Indonesia: seolah stabilitas makro sepenuhnya berada dalam kendali domestik. Faktanya, nilai tukar rupiah, arus modal, dan biaya utang sangat ditentukan oleh keputusan geopolitik negara besar.
Ketika Amerika menguatkan dolar melalui ketegangan global, Bank Indonesia tidak punya banyak pilihan selain bertahan di garis tipis antara:
- stabilitas nilai tukar, dan
- kebutuhan pertumbuhan.
Di sinilah terlihat bahwa kedaulatan ekonomi Indonesia bersyarat, bukan absolut.
Diam adalah Posisi, Bukan Netralitas
Lebih berbahaya lagi adalah kecenderungan elite kebijakan Indonesia untuk diam. Diam dianggap aman. Padahal dalam geopolitik ekonomi, diam adalah posisi dan sering kali posisi yang lemah.
Jika preseden Venezuela diterima tanpa perlawanan internasional yang berarti, maka pesan globalnya jelas:
kedaulatan negara berkembang bisa dinegosiasikan ketika kepentingan ekonomi negara besar terlibat.
Hari ini Venezuela. Besok bisa negara lain. Dan Indonesia tidak kebal dari logika itu.
Indonesia Harus Membaca Dunia Apa Adanya
Opini ini bukan ajakan konfrontasi, melainkan ajakan kedewasaan kebijakan. Indonesia tidak cukup hanya mengulang doktrin bebas-aktif. Dunia telah bergeser dari multilateralisme normatif ke pragmatisme kekuasaan.
Yang dibutuhkan Indonesia adalah:
- diversifikasi energi yang serius, bukan jargon,
- penguatan pasar keuangan domestik agar tidak panik setiap krisis global,
- dan keberanian menyatakan posisi kebijakan di forum internasional ketika prinsip kedaulatan diinjak.
Tanpa itu, Indonesia akan terus menjadi negara yang “stabil di atas kertas”, tetapi rapuh ketika dunia bergejolak.
Penutup: Pelajaran yang Tidak Boleh Diabaikan
Ketika Amerika mengklaim akan “mengelola” Venezuela, dunia sedang diuji bukan hanya secara hukum internasional, tetapi secara kejujuran ekonomi politik. Indonesia seharusnya membaca ini sebagai peringatan dini: bahwa ketergantungan global tanpa kesiapan domestik adalah bentuk kerentanan baru.
Netralitas bukan strategi ekonomi.
Ia hanya aman bagi negara yang siap menanggung risikonya.