Dalam jargon Chavismo, gelar first lady dianggap terlalu lembut. Maka lahirlah istilah “first combatant” sebuah penanda bahwa kekuasaan tidak berhenti di ranah simbolik, tetapi bergerak aktif di garis depan politik. Di Venezuela, istilah itu melekat pada Cilia Flores, pasangan Presiden Nicolás Maduro, yang selama lebih dari tiga dekade membangun kapital politiknya sendiri.
Sebutan first combatant mengisyaratkan sesuatu yang lebih dalam: kekuasaan personal yang dilembagakan tanpa harus bergantung pada jabatan formal. Flores pernah memegang posisi strategis dari parlemen hingga penegakan hukum namun pengaruhnya hari ini justru tampak paling kuat ketika ia tidak perlu berada di depan layar. Inilah paradoks kekuasaan modern: ketika legitimasi tidak lagi bertumpu pada titel, melainkan pada jejaring loyalitas, kontrol institusi, dan narasi ideologis.
Fenomena ini bukan sekadar kisah Venezuela. Ia mencerminkan pola yang berulang dalam rezim-rezim yang mengaburkan batas antara negara, partai, dan keluarga. Dalam kerangka Chavismo, revolusi dipersonalisasi; ideologi menjadi bahasa legitimasi; dan figur di sekitar pemimpin memperoleh daya dorong yang tak tertulis namun efektif. Kekuasaan menjadi relasional bukan prosedural.
Ke depan, implikasinya signifikan. Ketika sanksi internasional, tekanan geopolitik, dan krisis ekonomi terus menguji Venezuela, figur seperti Flores berfungsi sebagai shock absorber politik menjaga kohesi internal ketika legitimasi elektoral dipertanyakan. Di sinilah first combatant menjadi konsep masa depan: peran informal yang mengikat sistem ketika institusi formal melemah.
Namun, ada biaya kebijakan yang menyertai. Personalisasi kekuasaan mempersempit ruang akuntabilitas. Ia memudarkan garis tanggung jawab, menyulitkan koreksi kebijakan, dan memperbesar risiko salah kelola. Dalam jangka panjang, negara yang mengandalkan figur-figur informal untuk stabilitas akan kesulitan melakukan reformasi struktural karena reformasi menuntut institusi, bukan persona.
Opini ini tidak menghakimi individu; ia menguji arsitektur kekuasaan. Ketika first combatant lebih menentukan arah negara ketimbang mekanisme publik, pertanyaannya bukan lagi siapa yang berkuasa, melainkan bagaimana kekuasaan itu diproduksi dan dipertahankan. Di titik itulah masa depan kebijakan dan demokrasi dipertaruhkan.