Lonjakan penerbitan obligasi korporasi Amerika Serikat hingga mendekati US$1,7 triliun pada 2025 bukan sekadar fenomena pasar keuangan. Ia adalah pilihan politik-ekonomi: membiayai masa depan melalui utang, dengan harapan bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menebusnya lewat produktivitas dan pertumbuhan.

Bagi Amerika Serikat, taruhan ini mungkin rasional. Dolar adalah mata uang global, pasar keuangannya dalam, dan The Fed memiliki kredibilitas serta instrumen untuk mengelola gejolak. Namun bagi negara berkembang seperti Indonesia, keputusan The Fed untuk membiarkan atau bahkan secara implisit memfasilitasi boom utang korporasi berbasis AI membawa konsekuensi yang tidak simetris.

The Fed dan Ilusi Netralitas Global

Setiap kali The Fed menunda pelonggaran atau memberi sinyal higher for longer, ia sering menyebut mandat domestik: inflasi dan tenaga kerja. Namun realitas sistem moneter internasional menunjukkan bahwa kebijakan tersebut tidak pernah netral secara global.

Ketika AS membiayai transformasi teknologinya dengan utang murah, volatilitas yang menyertainya baik dari perubahan suku bunga, pelebaran credit spread, maupun koreksi pasar ditransmisikan ke negara lain. Indonesia tidak ikut menikmati ledakan investasi AI global, tetapi tetap menanggung dampaknya melalui:

  • tekanan nilai tukar,
  • volatilitas pasar obligasi,
  • dan ketidakpastian arus modal portofolio.

Dalam arti ini, utang AI AS adalah ekspor risiko.

Dilema Indonesia: Stabilitas Dibayar Mahal

Indonesia tidak memiliki kemewahan untuk “menunggu hasil” dari euforia AI global. Setiap perubahan kecil pada ekspektasi The Fed dapat memaksa Bank Indonesia bersikap defensif menjaga rupiah, menenangkan pasar, dan mempertahankan kepercayaan investor sering kali dengan biaya pertumbuhan jangka pendek.

Ironisnya, ketika perusahaan AS bebas menambah leverage demi masa depan, negara berkembang justru dipaksa bersikap konservatif demi stabilitas hari ini. Ketimpangan ini bukan kesalahan kebijakan domestik semata, melainkan konsekuensi dari arsitektur moneter global yang menempatkan negara berkembang sebagai shock absorber.

AI, Utang, dan Pertanyaan yang Jarang Diajukan

Pertanyaan mendasarnya bukan apakah AI akan mengubah ekonomi dunia itu hampir pasti. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: siapa yang menanggung risiko jika ekspektasi itu meleset?

Jika proyek AI tidak menghasilkan arus kas seperti yang dijanjikan, perusahaan AS mungkin menghadapi tekanan kredit. Namun bagi Indonesia, kegagalan tersebut bisa berarti:

  • arus keluar modal mendadak,
  • pelemahan rupiah,
  • dan pengetatan kondisi keuangan domestik—tanpa pernah ikut menikmati keuntungan awalnya.

Penutup: Membaca Kekuasaan di Balik Angka

Indonesia tidak bisa mengontrol kebijakan The Fed, apalagi strategi pembiayaan AI korporasi AS. Tetapi Indonesia bisa dan harus membaca kekuasaan di balik angka-angka tersebut.

Boom utang AI AS adalah pengingat bahwa transformasi teknologi global tidak datang tanpa biaya politik dan moneter. Dan dalam sistem yang timpang, biaya itu sering kali dibayar oleh mereka yang tidak ikut mengambil keputusan.

Bagi Indonesia, kewaspadaan moneter hari ini bukan tanda kelemahan, melainkan strategi bertahan hidup dalam tatanan global yang masih memusatkan kekuasaan keuangan pada segelintir negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *