Jakarta, Desember 2025 — Bank sentral di seluruh dunia terus membeli emas pada level yang belum pernah terjadi sebelumnya, menunjukkan pergeseran struktural dalam strategi cadangan devisa yang dipicu oleh dorongan diversifikasi dan upaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Tren ini diperkirakan akan berlanjut hingga 2026, meskipun muncul kekhawatiran pasar tentang potensi gelembung harga emas. Facebook+1
Data dari World Gold Council dan berbagai laporan riset menunjukkan bahwa pembelian bersih emas oleh bank sentral global mencapai puluhan ton per bulan sepanjang 2025, termasuk pembelian sebesar 53 ton pada Oktober 2025—jumlah tertinggi dalam periode tersebut—dengan partisipasi aktif dari negara-negara seperti Polandia, Brasil, serta bank-bank sentral di Asia dan Eropa. Bank Indonesia juga tercatat menambah cadangan emasnya sekitar 4 ton pada periode yang sama. Bareksa.com
Diversifikasi Cadangan dan Reduksi Dolar
Fenomena akumulasi emas ini tidak sekadar reaksi terhadap volatilitas harga, tetapi mencerminkan pergeseran strategis dalam manajemen cadangan devisa. Banyak bank sentral melihat emas sebagai instrumen diversifikasi yang kurang berkorelasi dengan aset berbasis dolar dan menawarkan proteksi terhadap risiko geopolitik serta risiko mata uang fiat. worldfinance.com
Sejumlah analis juga menilai bahwa pembelian emas oleh bank sentral menjadi bagian dari upaya mengurangi keterpaparan pada dolar AS di tengah ketidakpastian ekonomi global, termasuk risiko sanksi politik dan dominasi sistem keuangan berbasis dolar. Hal ini diperkuat oleh survei bank sentral yang menunjukkan bahwa sebagian besar responden berencana meningkatkan porsi emas dalam cadangan devisa mereka dalam 12 bulan ke depan. ING Think
Harga Emas Mendekati Rekor dan Prospek 2026
Tidak terlepas dari tren permintaan institusional ini, harga emas secara global terus mencatat rekor baru. Pada akhir Desember 2025, harga emas diperdagangkan di atas US$4.300 per ons, yang merupakan puncak tertinggi sepanjang sejarah harga komoditas tersebut. Kenaikan ini sebagian didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve AS serta permintaan aset aman di tengah gejolak geopolitik dan tekanan inflasi. Reuters
Lembaga riset dan bank investasi besar seperti Goldman Sachs memperkirakan bahwa harga emas berpotensi mencapai kisaran US$4.900–US$5.000 per ons pada 2026, dengan dukungan lanjutan dari bank sentral dan investor institusional yang melihat emas sebagai store of value dan alat lindung nilai terhadap risiko moneter. IDN Financials
Implikasi Kebijakan dan Risiko Sistemik
Fenomena ini menghadirkan beberapa tantangan kebijakan yang perlu dicermati. Pertama, akumulasi emas oleh bank sentral dapat memperkuat argumen pergeseran dari sistem cadangan global berbasis dolar, yang membawa implikasi terhadap kebijakan moneter negara-negara maju dan berkembang. Kedua, ketergantungan yang meningkat pada emas sebagai aset cadangan dapat menciptakan dinamika permintaan yang memperpanjang reli harga dan memperkaya rezim yang lebih luas dari kebijakan diversifikasi aset strategis.
Meskipun beberapa analis memperingatkan risiko gelembung harga karena reli yang berkelanjutan, para pembeli institusional tampaknya memandang emas sebagai bagian tak terelakkan dari strategi cadangan jangka panjang, bukan sekadar respons terhadap fluktuasi pasar jangka pendek. worldfinance.com