Lonjakan pembelian emas oleh bank sentral dunia dalam beberapa tahun terakhir menandai pergeseran struktural dalam pengelolaan cadangan devisa global. Fenomena ini tidak dapat dijelaskan semata sebagai respons siklus terhadap volatilitas pasar atau kenaikan harga emas, melainkan mencerminkan reorientasi strategi cadangan di tengah perubahan lanskap moneter dan geopolitik.

Data yang dihimpun oleh World Gold Council menunjukkan bahwa pembelian bersih emas oleh bank sentral mencapai level tertinggi dalam sejarah modern dan cenderung bertahan. Pola pembelian yang konsisten bahkan saat harga emas berada di level tinggi mengindikasikan bahwa pertimbangan utama bank sentral adalah manajemen risiko sistemik jangka panjang, bukan optimalisasi keuntungan jangka pendek.

1. Motif Struktural: Diversifikasi dan Risiko Geopolitik

Secara konseptual, cadangan devisa berfungsi sebagai penyangga stabilitas eksternal dan alat kepercayaan pasar. Namun, meningkatnya risiko geopolitik, politisasi sistem pembayaran internasional, serta penggunaan sanksi finansial telah meningkatkan risiko konsentrasi pada aset berbasis dolar. Dalam konteks ini, emas menawarkan karakteristik unik: tidak bergantung pada penerbit, tidak terpapar risiko pihak lawan (counterparty risk), dan relatif kebal terhadap pembatasan lintas yurisdiksi.

Motif diversifikasi ini juga tercermin dari menurunnya korelasi strategis antara emas dan aset keuangan utama. Bagi bank sentral, emas berfungsi sebagai aset lindung nilai institusional yang melengkapi bukan menggantikan aset likuid seperti obligasi pemerintah negara maju.

2. Hubungan dengan Kebijakan Moneter Global

Pergeseran ke emas berlangsung bersamaan dengan fase pengetatan dan pelonggaran kebijakan yang tidak sinkron antarnegara, serta ketidakpastian arah suku bunga global. Kebijakan bank sentral utama khususnya Federal Reserve memiliki implikasi lintas negara terhadap arus modal dan nilai tukar. Dalam kondisi ini, emas diposisikan sebagai penyeimbang portofolio cadangan ketika volatilitas kebijakan meningkat.

Namun, penting dicatat bahwa emas adalah aset non-yielding. Peningkatan porsi emas menuntut disiplin kebijakan yang lebih kuat di sisi moneter dan fiskal agar biaya peluang (opportunity cost) tidak melemahkan efektivitas cadangan secara keseluruhan.

3. Apakah Ini De-dolarisasi?

Secara empiris, akumulasi emas tidak identik dengan penolakan terhadap dolar. Lebih tepat dibaca sebagai strategi pengurangan risiko (risk reduction), bukan penggantian sistem. Dolar tetap dominan dalam transaksi internasional dan likuiditas global. Namun, tren emas menunjukkan bahwa kepercayaan kini dikelola secara aktif, bukan diasumsikan.

Dengan kata lain, sistem moneter global bergerak menuju konfigurasi yang lebih multipolar, di mana cadangan devisa didesain untuk bertahan dalam skenario fragmentasi keuangan dan ketegangan geopolitik.

4. Implikasi Kebijakan bagi Negara Berkembang

Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, peningkatan cadangan emas dapat memperkuat ketahanan eksternal dan kredibilitas kebijakan dalam kondisi krisis. Akan tetapi, strategi ini harus diseimbangkan dengan kebutuhan likuiditas jangka pendek dan pembiayaan pembangunan. Emas efektif sebagai penyangga, tetapi tidak menggantikan kredibilitas kebijakan makro.

Implikasi kebijakan utamanya adalah kebutuhan kerangka manajemen cadangan yang adaptif, transparan, dan terintegrasi dengan kebijakan moneter–fiskal. Tanpa itu, akumulasi emas berisiko menjadi simbol kehati-hatian tanpa daya dorong stabilitas yang memadai.

Akumulasi emas oleh bank sentral merupakan indikator penting dari pergeseran struktural strategi cadangan devisa di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Fenomena ini menandai transisi dari sistem berbasis kepercayaan pasif menuju pengelolaan kepercayaan yang aktif. Ke depan, keberlanjutan tren ini hingga 2026 akan sangat ditentukan oleh dinamika geopolitik, arah kebijakan moneter global, dan kemampuan negara menjaga kredibilitas kebijakan domestiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *