Kembalinya bank sentral ke emas bukanlah nostalgia terhadap masa lalu, melainkan indikator kegelisahan sistemik terhadap masa depan. Ketika otoritas moneter—yang selama beberapa dekade menjadi arsitek utama sistem keuangan modern—secara agresif menambah cadangan emas, pesan yang dikirimkan bukan kepada pasar, melainkan kepada rezim moneter global itu sendiri.

Lonjakan pembelian emas oleh bank sentral dalam beberapa tahun terakhir, termasuk lebih dari 1.100 metrik ton pada 2025, menandai perubahan sikap yang signifikan. Dalam sistem yang dibangun di atas mata uang fiat, kepercayaan, dan koordinasi internasional, emas kembali diposisikan sebagai aset terakhir yang tidak bergantung pada janji siapa pun.

Secara formal, bank sentral tidak membutuhkan emas untuk menjalankan kebijakan moneter. Instrumen suku bunga, operasi pasar terbuka, dan komunikasi kebijakan sudah lama menggantikan peran emas sebagai jangkar nominal. Namun, realitas geopolitik dan finansial pasca-krisis menunjukkan bahwa stabilitas moneter tidak lagi ditentukan semata oleh model, melainkan oleh ketahanan terhadap guncangan ekstrem.

Emas menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki aset lain: kedaulatan nilai. Ia tidak diterbitkan oleh negara tertentu, tidak membawa risiko gagal bayar, dan tidak terikat pada sistem pembayaran tertentu. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi—ditandai oleh sanksi finansial, perang dagang, dan politisasi sistem pembayaran internasional—emas menjadi simbol dan instrumen lindung nilai terhadap risiko institusional.

Fenomena ini juga mencerminkan erosi kepercayaan terhadap mata uang cadangan global. Dominasi dolar AS masih bertahan, tetapi tidak lagi diterima sebagai sesuatu yang netral secara politik. Bagi banyak negara, terutama emerging markets, diversifikasi cadangan bukan lagi soal optimalisasi portofolio, melainkan strategi bertahan hidup moneter.

Menariknya, kebangkitan emas terjadi justru di era aset digital dan inovasi finansial. Ini menegaskan satu hal penting: teknologi tidak otomatis menggantikan kepercayaan. Ketika ketidakpastian meningkat, preferensi bank sentral tidak bergerak ke arah instrumen yang lebih kompleks, melainkan ke aset yang paling sederhana dan paling lama dikenal manusia.

Namun, kembalinya emas tidak berarti kembalinya standar emas. Bank sentral tidak sedang meninggalkan sistem fiat, melainkan mengakui keterbatasannya. Emas tidak digunakan untuk mengikat kebijakan moneter, tetapi untuk mengamankan ruang kebijakan itu sendiri ketika koordinasi global melemah.

Dalam konteks ini, emas berfungsi sebagai indikator diam dari ketegangan global: semakin besar akumulasi emas oleh bank sentral, semakin tinggi ketidakpercayaan terhadap stabilitas tatanan moneter internasional. Emas tidak berbicara, tetapi kebijakan bank sentral berbicara melalui emas.

Pada akhirnya, pertanyaan utamanya bukan mengapa bank sentral kembali ke emas, melainkan apa yang mereka ragukan dari sistem yang ada. Selama ketidakpastian geopolitik, fragmentasi ekonomi, dan tekanan fiskal terus meningkat, emas akan tetap berada di ruang bawah tanah bank sentral—sebagai pengingat bahwa kepercayaan adalah mata uang paling langka dalam sistem keuangan global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *