Ringkasan The World Bank Group Wrapped: 2025 menegaskan satu pergeseran penting: agenda ketahanan (resilience) tidak lagi diperlakukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai pra-syarat bagi pembangunan yang lebih produktif—khususnya penciptaan lapangan kerja. Dalam konteks ini, smart development menjadi kerangka operasional untuk menghubungkan stabilitas makro dengan transformasi struktural.

Resilience sebagai Pra-Syarat, Bukan Garis Akhir

Selama beberapa tahun terakhir, kebijakan pembangunan global cenderung defensif—berfokus pada mitigasi guncangan (pandemi, konflik, iklim). Pada 2025, Bank Dunia memberi sinyal bahwa ketahanan makro harus “dibayar” dengan reformasi mikro: penguatan institusi, efisiensi belanja, dan kapasitas implementasi. Tanpa itu, resilience hanya menunda krisis, bukan mengurangi kerentanannya.

Smart Development: Reformasi yang Terukur

Smart development menekankan selektivitas kebijakan: investasi publik diarahkan ke sektor ber-multiplier tinggi, reformasi regulasi difokuskan pada hambatan investasi produktif, dan teknologi diposisikan sebagai pengungkit efisiensi, bukan substitusi tenaga kerja. Kerangka ini menuntut disiplin kebijakan—memilih program yang paling berdampak pada produktivitas dan pekerjaan.

Jobs sebagai Outcome Kebijakan, Bukan Efek Samping

Penempatan jobs sebagai prioritas menandai perubahan logika: pekerjaan tidak lagi diasumsikan “mengikuti” pertumbuhan, tetapi harus dirancang. Ini berarti kebijakan pendidikan–keterampilan, iklim usaha, dan pembiayaan UMKM perlu disinkronkan. Risiko terbesarnya adalah jobless resilience: ekonomi stabil, tetapi pasar kerja stagnan.

Implikasi ke Negara Berkembang (termasuk Indonesia)

Bagi negara berkembang, pesan kebijakan Bank Dunia relevan namun menantang. Stabilitas makro perlu diterjemahkan ke reformasi sektoral yang konkret (manufaktur bernilai tambah, jasa modern, ekonomi hijau). Tanpa reformasi implementatif, fokus pada jobs berpotensi berhenti di level program, bukan hasil.


Agenda 2025 Bank Dunia menggeser fokus dari survival ke delivery. Tantangan ke depan bukan lagi “apakah ekonomi bertahan”, melainkan apakah kebijakan mampu menciptakan pekerjaan yang produktif dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *