Ada kalimat yang terdengar heroik: “Our choice has displayed both courage and conviction.” Tapi pada 2025, keberanian dan keyakinan itu tidak lahir dari laboratorium inovasi, transformasi hijau, atau revolusi produktivitas. Ia lahir dari satu hal yang jauh lebih tua: rearmament—perlombaan senjata yang kembali menjadi nadi pertumbuhan industri Eropa.
The Economist memilih Armin Papperger, CEO Rheinmetall, sebagai “CEO terbaik 2025”, setelah proses seleksi yang berangkat dari ukuran pasar: perusahaan di indeks S&P 1200 dinilai berdasarkan excess shareholder returns relatif terhadap sektornya, dengan penyaringan masa jabatan dan uji kualitas kinerja. mint Pemenangnya bukan sekadar “bos yang beruntung”—Rheinmetall mencatat return total sekitar 158% termasuk dividen, memenangkan banyak kontrak, dan berekspansi ke galangan kapal lewat akuisisi. mint
Namun di sinilah persoalan editorialnya: ketika eksekutif terbaik didefinisikan oleh kinerja saham di tahun perang, kita sedang menyaksikan bagaimana pasar mengubah konflik menjadi “benchmark kepemimpinan”.
Papperger disebut berani—bahkan pernah menjadi target rencana pembunuhan, dan tetap tidak mundur. mint Dari sudut pandang manajemen risiko personal, itu memang ekstrem. Tetapi dari sudut pandang kebijakan publik, keberanian individual tidak menghapus pertanyaan struktural: apa yang sedang dinormalisasi oleh sistem penghargaan ini? Bahwa “kepemimpinan unggul” adalah kemampuan mengkapitalisasi ketegangan geopolitik seefisien mungkin.
Pada 2025, CEO mana pun bekerja di atas tanah yang goyah: trade war dan kebijakan yang kacau dari kembalinya Trump, kompetisi teknologi China–Barat yang makin keras, dan AI yang hype-nya belum otomatis jadi laba. mint Dalam lanskap seperti ini, industri pertahanan punya “keuntungan kebijakan”: belanja negara naik, kontrak mengalir, dan urgensi politik mengunci permintaan. Itu bukan sekadar strategi bisnis; itu kebijakan fiskal yang berubah menjadi permintaan korporasi.
Kita juga perlu jujur: seleksi ini sendiri mengakui bahwa tata kelola tetap penting—beberapa kandidat disingkirkan karena isu governance dan pengawasan internal, bahkan ketika kinerja saham mereka mengilap. mint Ini pelajaran yang relevan: pasar bisa merayakan return, tetapi reputasi institusi tetap bisa runtuh oleh kelemahan pengawasan. Sayangnya, ketika sektor yang menang adalah pertahanan, “governance” sering terdesak oleh alasan keamanan dan kedaruratan.
Jika penghargaan “CEO terbaik” menjadi narasi publik yang dominan, maka dampak jangka panjangnya bukan hanya pada citra seorang eksekutif. Ia membentuk psikologi korporasi global: mencari sektor yang paling dekat dengan anggaran negara dan ketegangan global, bukan sektor yang paling produktif atau paling inovatif secara sosial.
Dan di titik ini, editorial Warna Media memilih posisi: kita boleh mengakui kecakapan eksekusi Papperger—tanpa ikut meromantisasi mesin ekonomi yang ditenagai konflik.