Ekonom internasional Eswar Prasad dalam buku terbarunya, The Doom Loop, mengajukan tesis yang sederhana namun mengkhawatirkan: dunia sedang memasuki fase turbulensi ekonomi yang tidak lagi sekadar siklus biasa, melainkan sebuah lingkaran umpan balik destruktif antara geopolitik, populisme, dan disfungsi sistem global.

Prasad menilai bahwa meningkatnya kompetisi dalam lanskap geopolitik yang semakin bersifat zero-sum telah mengubah mesin-mesin kerja sama global seperti perdagangan, integrasi keuangan, dan institusi multilateral menjadi sumber konflik dan ketidakstabilan baru. Ketika negara-negara besar memandang pertumbuhan pihak lain sebagai ancaman, ruang kolaborasi menyempit dan fragmentasi ekonomi menguat.

Menurutnya, kondisi tersebut diperparah oleh kecenderungan elite politik yang semakin defensif terhadap kekuasaan. Ketika kelompok penguasa berupaya mempertahankan posisi di tengah tekanan ekonomi dan sosial, politik populis menemukan momentumnya. Kebijakan jangka pendek yang dirancang untuk mempertahankan dukungan domestik justru berisiko memperburuk instabilitas global.

Dari Kerja Sama ke Fragmentasi

Dalam pembacaan Prasad, dunia tidak hanya mengalami perlambatan ekonomi, tetapi juga perubahan struktural dalam tata kelola global. Sistem perdagangan internasional yang sebelumnya menjadi jangkar stabilitas kini terjebak dalam rivalitas strategis. Demikian pula dengan arus modal dan sistem keuangan internasional, yang semakin dipolitisasi.

Implikasinya tidak hanya bersifat makroekonomi. Ketidakpastian kebijakan, disrupsi rantai pasok, serta meningkatnya proteksionisme memperlemah fondasi pertumbuhan jangka panjang. Negara-negara berkembang, yang bergantung pada integrasi global untuk ekspansi ekonomi, menjadi pihak yang paling rentan.

Risiko Kebijakan ke Depan

Jika tesis “doom loop” Prasad terbukti, maka dunia berpotensi menghadapi spiral kebijakan yang saling memperkuat: ketegangan geopolitik mendorong fragmentasi ekonomi, fragmentasi memperlambat pertumbuhan, perlambatan memicu populisme, dan populisme semakin memperuncing konflik geopolitik.

Dalam konteks ini, stabilitas ekonomi tidak lagi hanya bergantung pada kebijakan moneter atau fiskal domestik, melainkan pada kemampuan negara-negara besar mengelola rivalitas tanpa meruntuhkan arsitektur kerja sama global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *