Jakarta. Tradisi memberi cokelat saat Valentine mungkin terasa sederhana. Namun, di balik sebatang cokelat yang dibagikan, bisa jadi terdapat kontribusi dari kakao asli Indonesia yang kini semakin diminati pasar global.
Sepanjang tahun 2025, ekspor kakao Indonesia tercatat mencapai 3,59 miliar dolar AS, dengan volume lebih dari 342 ribu ton yang dikirim ke berbagai negara. Angka ini menunjukkan posisi kakao sebagai salah satu komoditas perkebunan strategis dalam struktur ekspor nasional.
Tiga negara tercatat sebagai pasar utama kakao Indonesia tahun ini, yakni India, Amerika Serikat, dan China. Ketiga negara tersebut menyerap sebagian besar volume ekspor, mencerminkan daya saing kakao Indonesia di pasar internasional yang semakin kompetitif.
Kinerja ini tidak terlepas dari kombinasi faktor kualitas dan produktivitas. Cita rasa kakao Indonesia yang khas, standar mutu yang semakin terjaga, serta perbaikan praktik budidaya di tingkat petani menjadi fondasi penguatan posisi Indonesia sebagai produsen kakao dunia.
Di tengah dinamika perdagangan global dan persaingan antarnegara produsen, peningkatan nilai ekspor ini juga menunjukkan potensi hilirisasi yang masih bisa diperluas. Penguatan industri pengolahan dalam negeri dinilai dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat ketahanan ekspor komoditas berbasis pertanian.
Dari kebun petani di berbagai daerah penghasil kakao Nusantara, produk Indonesia kini menjadi bagian dari rantai pasok cokelat dunia. Momentum ini tidak hanya soal perayaan musiman, tetapi juga tentang bagaimana komoditas lokal mampu menembus pasar global dengan daya saing yang berkelanjutan.