Ada satu kesalahan paling sering dalam diskursus ekonomi global: mengira bahwa pertumbuhan otomatis menyelesaikan persoalan. Minggu ini, rangkaian isu frontier markets, pendidikan, masa depan kerja, perlambatan pertumbuhan global, hingga adaptasi OPEC sebenarnya bercerita tentang hal yang sama: model kebijakan yang ada belum mampu mengubah pertumbuhan menjadi pekerjaan bermutu dan penurunan kemiskinan yang nyata.
Frontier markets kerap dipromosikan sebagai “lahan baru” pertumbuhan. Tetapi problemnya bukan semata kurangnya potensi melainkan kualitas institusi dan desain kebijakan. Investasi tidak akan mengalir ke ruang yang tidak menyediakan kepastian aturan, penegakan hukum, dan tata kelola yang dapat dipercaya. Kita terlalu sering menyalahkan “pasar” ketika kegagalan sesungguhnya ada pada negara yang tidak menata rumahnya sendiri: regulasi yang berubah-ubah, biaya transaksi tinggi, dan kebijakan yang tak konsisten. Frontier markets akan terus “frontier” bila pemerintahnya memperlakukan kebijakan sebagai sekadar respons jangka pendek, bukan strategi pembangunan jangka panjang.
Isu pendidikan menunjukkan akar masalah yang lebih fundamental: pekerjaan dan pertumbuhan tidak akan bertemu tanpa kompetensi. Agenda mendukung ratusan juta siswa dunia patut diapresiasi, tetapi ukuran keberhasilan tidak boleh berhenti pada angka partisipasi. Pertanyaan sesungguhnya: apakah pendidikan menghasilkan keterampilan yang relevan, apakah ada jembatan dari kelas ke pasar kerja, dan apakah sistem memihak pada peningkatan produktivitas, bukan sekadar sertifikat. Pendidikan yang tidak terkoneksi dengan struktur ekonomi hanya akan memproduksi frustrasi sosial: lulusan bertambah, pekerjaan layak tetap langka.
Seruan Ajay Banga untuk “menata ulang dunia kerja” mengandung pesan yang seharusnya lebih keras: perubahan teknologi dan struktur produksi membuat banyak negara tertinggal bukan karena malas, melainkan karena kebijakan publiknya kalah cepat. Dunia kerja yang baru menuntut negara hadir sebagai enabler: mempercepat reskilling, memperluas akses pembiayaan UMKM dan wirausaha, serta membangun ekosistem yang membuat pekerjaan formal menjadi mungkin, bukan mewah. Jika tidak, “reimagining work” akan tinggal jargon elite global sementara mayoritas pekerja bergulat dengan informalitas dan upah stagnan.
Di atas semua itu, perlambatan pertumbuhan global pascapandemi memperjelas kenyataan pahit: angka pertumbuhan saat ini tidak cukup untuk menurunkan kemiskinan ekstrem dan menciptakan pekerjaan yang dunia butuhkan. Artinya, kita tidak sedang menghadapi masalah siklus biasa. Ini krisis desain: kebijakan makro, perdagangan, dan investasi belum disusun untuk memulihkan produktivitas secara inklusif. Ketika pertumbuhan melambat, negara cenderung “mengencangkan ikat pinggang” padahal yang dibutuhkan adalah pembenahan prioritas belanja: pendidikan, kesehatan, infrastruktur produktif, dan perlindungan sosial yang bekerja.
Lalu, transisi energi. Pertanyaan “bisakah OPEC tetap relevan?” sebenarnya bukan semata tentang OPEC. Itu pertanyaan tentang siapa menanggung biaya transisi. Dunia bergerak menuju energi yang lebih bersih, tetapi transisi yang tidak adil akan memunculkan dua krisis sekaligus: krisis energi dan krisis sosial. Negara produsen migas tidak bisa hanya bertahan dengan strategi kuota; mereka butuh diversifikasi ekonomi yang nyata. Di sisi lain, negara konsumen tidak bisa sekadar mengumumkan target dekarbonisasi tanpa menyiapkan rantai pasok, investasi, dan kebijakan proteksi bagi kelompok rentan yang paling dulu merasakan kenaikan biaya hidup.
Benang merahnya jelas: kebijakan publik tidak boleh lagi diperlakukan sebagai pelengkap setelah pasar bekerja. Justru sebaliknya kebijakan adalah arsitektur yang menentukan apakah pertumbuhan menghasilkan pekerjaan, apakah pendidikan menghasilkan produktivitas, dan apakah transisi energi menghasilkan keadilan. Dunia tidak kekurangan laporan dan pidato. Yang kurang adalah keberanian untuk menggeser orientasi: dari target angka ke perubahan struktur; dari retorika ke tata kelola; dari pertumbuhan semata ke kesejahteraan yang dapat diukur dan dirasakan.
Redaksi Warna Media memandang lima isu minggu ini sebagai peringatan bahwa ekonomi global sedang memasuki fase baru: pertumbuhan yang rapuh, pekerjaan yang tertinggal, dan transisi energi yang berpotensi timpang. Jika kebijakan tetap berjalan dengan logika lama, maka “potensi” hanya akan menjadi kata yang indah tanpa perubahan yang nyata.