Washington, D.C. Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperkirakan perekonomian global akan tetap tumbuh relatif stabil dalam dua tahun ke depan, meskipun dibayangi ketidakpastian kebijakan perdagangan dan dinamika geopolitik global.
Dalam pembaruan World Economic Outlook (WEO) Januari 2026, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,3 persen pada 2026 dan 3,2 persen pada 2027. Angka ini menunjukkan ketahanan (resilience) ekonomi dunia di tengah perubahan struktur perdagangan internasional dan fragmentasi kebijakan lintas negara.
Namun, IMF menekankan bahwa proyeksi tersebut merupakan hasil dari keseimbangan kekuatan yang saling berlawanan. Di satu sisi, meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan dan regulasi lintas negara berpotensi menekan aktivitas ekonomi global. Di sisi lain, lonjakan investasi teknologi terutama di Amerika Utara dan Asia serta kondisi keuangan global yang relatif akomodatif menjadi penyangga utama pertumbuhan.
Investasi Teknologi sebagai Penopang Utama
IMF mencatat bahwa investasi di sektor teknologi, termasuk kecerdasan buatan, digitalisasi industri, dan infrastruktur teknologi tinggi, menjadi faktor penting yang menjaga momentum pertumbuhan global. Amerika Utara dan Asia tercatat sebagai kawasan dengan kontribusi investasi terbesar, memperkuat pergeseran pusat pertumbuhan ekonomi dunia.
Kondisi keuangan global yang relatif longgar juga berperan menjaga aktivitas investasi dan konsumsi, meskipun tren suku bunga tinggi di beberapa negara maju masih menjadi faktor pembatas bagi negara berkembang.
Risiko Kebijakan dan Ketimpangan Regional
Di balik angka pertumbuhan yang stabil, IMF mengingatkan bahwa risiko kebijakan tetap signifikan. Perubahan arah kebijakan perdagangan, fragmentasi rantai pasok global, serta ketidakpastian geopolitik berpotensi memperlebar kesenjangan pertumbuhan antarnegara dan antarwilayah.
Bagi negara berkembang, termasuk emerging markets, stabilitas pertumbuhan global tidak serta-merta menjamin penguatan ekonomi domestik. Ketergantungan pada arus modal global dan ekspor membuat negara-negara ini lebih rentan terhadap perubahan kebijakan di negara maju.
Implikasi ke Depan
IMF menilai bahwa ketahanan pertumbuhan global pada 2026–2027 tidak boleh dibaca sebagai sinyal normalisasi penuh ekonomi dunia. Sebaliknya, periode ini dipandang sebagai fase transisi, di mana arah kebijakan perdagangan, teknologi, dan keuangan akan menentukan apakah pertumbuhan global dapat berkelanjutan atau kembali melemah.
IMF mendorong pemerintah untuk memperkuat koordinasi kebijakan, menjaga stabilitas makroekonomi, serta memastikan bahwa manfaat pertumbuhan khususnya dari investasi teknologi tidak terkonsentrasi hanya di kawasan tertentu.
Catatan Redaksi:
Proyeksi ini bersumber dari World Economic Outlook Update Januari 2026 yang dirilis oleh IMF dan dapat berubah seiring perkembangan kebijakan dan kondisi global.