Washington. Di tahun pertama masa jabatan keduanya, Presiden Donald Trump menghadapi gejala yang di Washington dianggap “alarm awal”: legitimasi publik yang menipis lebih cepat daripada kapasitas pemerintah membentuk narasi. Dalam pengukuran berbasis net approval (selisih setuju vs tidak setuju), sejumlah rilis dan ringkasan pemantauan menunjukkan posisi Trump bergerak di zona negatif dan sempat menyentuh titik terendah sekitar -18 pada akhir 2025.

Angka itu bukan sekadar statistik popularitas. Di politik Amerika, approval adalah mata uang negosiasi: semakin rendah nilainya, semakin mahal biaya politik untuk meloloskan kebijakan, merawat koalisi di Kongres, dan menahan pembelotan dari internal partai. Approval yang jatuh di tahun pertama biasanya memproduksi efek berantai: ketegangan fraksi di legislatif, pembatasan agenda, hingga perubahan strategi menuju “politik base” mengencangkan dukungan inti meski kehilangan pemilih mengambang.

Jejak Penurunan: ketika basis muda berbalik arah

Salah satu sinyal yang menarik perhatian pengamat adalah pembalikan sikap pemilih muda. Sejumlah laporan berbasis kumpulan survei menyebut porsi pemilih muda yang tidak setuju terhadap Trump meningkat tajam di awal 2026, sebuah tren yang menggerus klaim bahwa generasi muda bisa “dijinakkan” oleh pesan ekonomi dan anti-establishment.
Dalam bahasa politik elektoral, ini berarti: bukan hanya oposisi yang menolak, melainkan segmen yang biasanya cair mulai mengeras.

Mengapa turun? Tiga klaster ketidakpuasan yang paling sering muncul

Dari pembacaan tren pemberitaan dan ringkasan polling, penurunan tidak berdiri pada satu isu tunggal. Ia terkonsentrasi pada tiga klaster:

  1. Stabilitas ekonomi rumah tangga
    Ketika publik merasa biaya hidup dan kepastian kerja tidak membaik, capaian makro—pasar finansial menguat sekalipun sering gagal diterjemahkan sebagai “hidup lebih mudah”. Ini menciptakan jurang antara indikator ekonomi elite dan persepsi ekonomi keluarga.
  2. Arah kebijakan luar negeri dan “politik kejutan”
    Manuver dan retorika yang memicu friksi dengan sekutu (serta isu geopolitik yang menyedot perhatian) membentuk kesan bahwa pemerintah bergerak lewat tekanan dan improvisasi. Episode-episode pernyataan kontroversial di forum global ikut memperbesar kesan risiko.
  3. Kekhawatiran terhadap institusi demokrasi
    Dalam siklus kedua, publik biasanya menilai bukan hanya “apa kebijakan dibuat”, tetapi bagaimana kekuasaan dijalankan apakah konflik dengan lembaga, penegakan aturan, dan norma tata kelola negara menguat atau melemah.

Dampak ke depan: tahun kedua biasanya lebih keras dari tahun pertama

Jika tren negatif berlanjut, ada tiga konsekuensi “yang biasanya datang”:

  • Kongres makin transaksional: anggota parlemen—terutama yang menghadapi pemilu paruh waktu cenderung menjaga jarak dari kebijakan yang dianggap berisiko elektoral.
  • Agenda bergeser ke damage control: pemerintahan akan lebih sering menghabiskan energi untuk mengelola krisis narasi ketimbang mendorong reformasi besar.
  • Posisi tawar global ikut terpengaruh: mitra dan rival membaca approval sebagai indikator ruang gerak presiden di dalam negeri.

Di titik ini, pertanyaan investigatif yang paling relevan bukan lagi “berapa angkanya”, melainkan: kebijakan mana yang menjadi pemicu utama penurunan, dan siapa yang diuntungkan ketika pemerintahan dipaksa bermain defensif? Karena dalam politik, penurunan legitimasi jarang netral—ia selalu menciptakan pemenang dan pecundang baru.

Sumber utama: The Economist (approval tracker/ringkasan in brief).
Tambahan konteks: pelaporan tren pemilih muda dan ringkasan kumpulan polling.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *