Harga emas mencetak rekor tertinggi pada Rabu setelah Donald Trump menuju World Economic Forum di Davos untuk serangkaian pembicaraan yang dibayangi ketegangan geopolitik. Sikap Trump terkait rencana mengejar kendali atas Greenland disebut telah mendorong aliansi transatlantik ke krisis terbesarnya dalam beberapa dekade.
Trump dijadwalkan menyampaikan pidato di forum tersebut lebih lambat dari rencana awal, setelah pesawat kepresidenan Air Force One terpaksa kembali ke Washington akibat kendala teknis. Meski bersifat operasional, penundaan itu menambah sorotan terhadap agenda diplomatik yang tengah berlangsung di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Di pasar komoditas, emas melonjak lebih dari 2% seiring investor memburu aset lindung nilai (safe haven) untuk meredam risiko geopolitik. Kenaikan tajam ini menegaskan kembali fungsi emas sebagai pelindung nilai saat tensi politik dan ketidakpastian kebijakan meningkat.
Sementara itu, pasar keuangan yang lebih luas menunjukkan stabilisasi terbatas. Saham-saham Wall Street diperkirakan pulih sebagian kecil dari pelemahan tajam sehari sebelumnya, mengindikasikan bahwa pelaku pasar masih menimbang dampak jangka pendek ketegangan politik terhadap fundamental ekonomi.
Implikasi ke Depan
Lonjakan emas di tengah pasar saham yang relatif tenang mencerminkan divergensi sentimen: investor mengantisipasi risiko geopolitik jangka menengah, sembari menunggu kejelasan arah kebijakan luar negeri dan respons diplomatik para pemangku kepentingan. Jika ketegangan terkait Greenland berlanjut tanpa kerangka dialog yang jelas, volatilitas lintas aset berpotensi meningkat terutama pada instrumen lindung nilai dan mata uang utama.