Ottawa, Kanada. Setelah beberapa waktu relatif mereda, kekhawatiran rakyat Kanada bahwa Presiden Donald Trump mungkin serius mengusulkan negaranya menjadi negara bagian ke-51 Amerika Serikat kembali mencuat. Harapan awal, bahwa fokus Trump akan tertuju pada isu lain seperti kebijakan luar negeri dan perdagangan global, kini semakin pudar di tengah retorika dan tindakan yang dipandang berpotensi mengancam kedaulatan nasional.

Isu ini bukan sekadar ejekan politik: komentar Trump dan respons kebijakan terakhir membuat sebagian warga serta analis menganggap ancaman integrasi Amerika terhadap Kanada bukan sekadar kata-kata kosong. Komentar dan tindakan yang memperkuat kekhawatiran itu muncul pada saat Trump memperluas retorika agresifnya mengenai hubungan hemisferis dan menargetkan Greenland serta Venezuela dalam agenda geopolitiknya yang dipandang warga Kanada sebagai sinyal bahwa ambisi Trump tidak terbatas pada pertarungan dagang.

Reaksi Publik dan Politik Domestik

Mayoritas masyarakat Kanada menolak gagasan menjadi negara bagian AS. Polling menunjukkan sekitar 80–90% warga menentang ide tersebut, dengan hanya sebagian kecil responden yang menunjukkan minat terutama di provinsi Alberta, yang memiliki catatan sejarah sentiment yang berbeda terhadap pemerintah federal.

Reaksi politik juga kuat. Pemimpin federal dari berbagai partai, termasuk Perdana Menteri, telah menegaskan penolakan tegas terhadap gagasan semacam itu, dan menandai isu ini sebagai “tidak realistis” atau “tidak dapat diterima”. Meski demikian, kekhawatiran bahwa retorika tersebut bisa menjadi alat tawar dalam negosiasi perdagangan atau kebijakan lain tetap nyata di kalangan analis.

Hubungan Perdagangan dan Kedaulatan di Tengah Ketegangan

Ancaman ini tak berdiri sendiri. Kebijakan tarif tinggi dan retorika proteksionis yang dilancarkan AS di bawah Trump telah memicu ketegangan terus menerus dalam hubungan bilateral. Ketidaksepakatan atas tarif dan kebijakan perdagangan telah mendorong aksi pro-tes konsumen di beberapa provinsi Kanada dan bahkan memicu boikot terhadap produk AS yang jadi simbol perlawanan publik terhadap tekanan ekonomi dari Washington.

Reaksi pemerintah Kanada terhadap hal ini menunjukkan pergeseran strategi menjauh dari ketergantungan ekonomi sepenuhnya pada AS dan mencari penguatan hubungan dagang dengan kawasan lain, termasuk Eropa dan Asia. Kebijakan diversifikasi ini dianggap tidak hanya penting secara ekonomi, tetapi juga sebagai langkah strategis dalam mempertahankan kedaulatan nasional di tengah upaya diplomatik yang semakin menekan.

Potensi Dampak Kebijakan Jangka Panjang

Bila retorika semacam itu terus berulang atau dijadikan alat kompromi dalam perundingan global — baik terkait perdagangan, keamanan, atau isu multilateral implikasinya bisa meluas melampaui hubungan bilateral Kanada-AS. Ancaman integrasi wilayah atau eksploitasi leverage diplomatik melalui narasi dominasi hemisferis dapat mengguncang stabilitas politik domestik Kanada dan menimbulkan pertanyaan tentang arah aliansi transatlantik ke depannya.

Kekhawatiran ini bukan sekadar internasionalisme abstrak, tetapi menyentuh aspek fundamental seperti kedaulatan, identitas nasional, dan struktur ekonomi yang telah terbentuk puluhan tahun. Analisis lebih mendalam pun menggarisbawahi bahwa retorika ekstrem semacam itu, meski mungkin tidak terealisasi secara literal, dapat digunakan untuk memperkuat posisi tawar dalam negosiasi perdagangan atau kebijakan strategis global sebuah strategi yang berisiko menciptakan ketidakpastian struktural.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *