Laporan Chief Economists’ Outlook – January 2026 yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF) memberikan sinyal optimisme yang berhati-hati terhadap perekonomian global. Dibandingkan tahun sebelumnya, persepsi risiko resesi menurun, namun prospek pertumbuhan tetap terfragmentasi antarwilayah dan dibayangi oleh ketegangan struktural jangka menengah.

Bagi Indonesia, laporan ini tidak dapat dibaca sekadar sebagai kabar global, melainkan sebagai indikator tekanan dan peluang kebijakan yang akan membentuk ruang gerak moneter dan fiskal sepanjang 2026.


Optimisme Global yang Tidak Merata

WEF mencatat adanya perbaikan sentimen ekonomi global, tetapi dengan jalur pertumbuhan yang sangat berbeda. Asia khususnya Asia Selatan dan sebagian Asia Timur diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan, sementara Eropa dan beberapa ekonomi maju masih menghadapi stagnasi permintaan dan tekanan geopolitik.

Bagi Indonesia, kondisi ini menciptakan paradoks kebijakan. Di satu sisi, Indonesia berada di kawasan dengan prospek relatif lebih kuat. Di sisi lain, ketergantungan terhadap ekspor ke negara maju membuat perekonomian domestik tetap rentan terhadap pelemahan eksternal. Artinya, ketahanan kawasan tidak otomatis menjamin ketahanan nasional.


Implikasi terhadap Pertumbuhan Indonesia

Dengan proyeksi pertumbuhan domestik sekitar 5 persen lebih pada 2026, Indonesia relatif berada pada jalur yang stabil. Namun, Chief Economists’ Outlook mengisyaratkan bahwa pertumbuhan global yang moderat akan membatasi ekspansi perdagangan internasional.

Konsekuensinya, permintaan domestik kembali menjadi jangkar utama pertumbuhan. Ketergantungan berlebihan pada ekspor dan arus modal portofolio justru berpotensi memperbesar volatilitas jika terjadi koreksi global, khususnya di pasar keuangan.


Tekanan Utang Global dan Ruang Fiskal

Salah satu temuan penting WEF adalah meningkatnya kekhawatiran terhadap beban utang publik, baik di negara maju maupun berkembang. Dalam konteks global, tekanan ini berpotensi mempersempit ruang kebijakan fiskal dan mendorong penyesuaian yang bersifat pro-siklus.

Bagi Indonesia, pesan kebijakan cukup jelas: disiplin fiskal bukan sekadar pilihan teknokratik, tetapi prasyarat stabilitas makro. Dengan menjaga defisit dan rasio utang dalam batas aman, Indonesia mempertahankan fleksibilitas kebijakan ketika guncangan global kembali muncul.


Moneter, Stabilitas Keuangan, dan Risiko Global

WEF juga menyoroti risiko koreksi harga aset, khususnya yang terkait dengan sektor teknologi dan AI. Ketidakpastian ini berpotensi memicu volatilitas pasar keuangan global.

Dalam konteks Indonesia, stabilitas sektor keuangan menjadi kunci. Kebijakan moneter tidak hanya berfungsi menjaga inflasi dan nilai tukar, tetapi juga sebagai penjaga kepercayaan pasar di tengah arus modal global yang semakin selektif. Koordinasi antara otoritas moneter, fiskal, dan sektor keuangan menjadi semakin krusial.


Membaca 2026 sebagai Tahun Transisi Kebijakan

Outlook WEF menggambarkan 2026 sebagai tahun transisi: bukan masa krisis akut, tetapi juga belum fase pemulihan yang solid. Dalam situasi seperti ini, risiko terbesar bagi Indonesia bukanlah guncangan eksternal semata, melainkan kesalahan membaca momentum kebijakan.

Alih-alih mengandalkan stimulus jangka pendek, Indonesia perlu memanfaatkan periode ini untuk memperkuat fondasi struktural dari produktivitas, kualitas belanja negara, hingga efektivitas transmisi kebijakan moneter.


Bagi Indonesia, Chief Economists’ Outlook 2026 menegaskan satu hal penting: stabilitas bukan hasil dari kondisi global yang membaik, melainkan dari kebijakan domestik yang adaptif dan disiplin. Pertumbuhan yang relatif terjaga memberi ruang untuk bertindak, tetapi ruang tersebut hanya bernilai jika digunakan untuk memperkuat ketahanan jangka panjang.

Dalam konteks ini, 2026 bukan sekadar tahun pertumbuhan, melainkan ujian kemampuan kebijakan dalam membaca risiko global dan mengubahnya menjadi peluang nasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *