Davos, Switzerland. Chief Economists’ Outlook – January 2026 yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF) menunjukkan gambaran ekonomi global yang sedikit lebih optimistis dibanding tahun lalu, tetapi fragmentasi pertumbuhan dan risiko struktural tetap tinggi.

Laporan ini didasarkan pada survei terhadap komunitas chief economists global yang memberikan penilaian terhadap prospek ekonomi dalam satu tahun ke depan. Meskipun sebagian besar responden masih memprediksi kondisi global akan melambat, persentase yang pesimis turun tajam dari 72 % pada akhir 2025 menjadi sekitar 53 % untuk 2026.

Potensi Peluang dan Risiko Pasar

Ketidakpastian masih menjadi tema dominan. Meskipun ada indikasi ketahanan ekonomi, sejumlah risiko struktural tetap menekan outlook:

  • Utang publik yang tinggi di banyak negara memberi tekanan pada ruang kebijakan fiskal.
  • Ketegangan geoekonomi dan perubahan pola perdagangan global memicu ketidakpastian pasar.
  • Valuasi aset, terutama di sektor teknologi dan AI, menjadi fokus perhatian; survei menunjukkan 52 % ekonom memperkirakan saham terkait AI bisa turun, sementara 40 % lainnya justru melihat potensi kenaikan.

Laporan ini juga mencatat bahwa jika terjadi koreksi tajam pada saham teknologi, 76 % ekonom memperkirakan dampaknya akan menyebar luas ke perekonomian global.

Ketidakmerataan Pertumbuhan Regional

Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan bervariasi secara signifikan di berbagai wilayah:

  • Asia Selatan dan Asia Timur menunjukkan ekspektasi pertumbuhan yang relatif kuat dibanding kawasan lain.
  • Eropa diperkirakan menghadapi pertumbuhan yang lemah hingga moderat, mencerminkan tantangan permintaan domestik dan geopolitik.

Kondisi ini selaras dengan berita lain yang menyoroti India sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan di kawasan Asia Selatan, bahkan dipandang sebagai salah satu growth hubs tercepat pada 2026.

Tantangan Utang dan Kebijakan

Laporan WEF juga menyinggung isu makroekonomi yang lebih luas:

  • Sekitar sepertiga ekonom khawatir akan krisis utang negara maju, sementara hampir setengah melihat tekanan utang serupa di negara berkembang.
  • Mayoritas responden memperkirakan pemerintah akan mengandalkan inflasi yang lebih tinggi dan peningkatan pendapatan pajak untuk mengelola beban utang yang meningkat.

Fenomena ini menunjukkan tekanan kebijakan yang bertumpuk: di satu sisi, otoritas fiskal dan moneter harus mendukung stabilitas dan pertumbuhan; di sisi lain, ruang kebijakan semakin sempit akibat akumulasi utang dan ketidakpastian geopolitik.

Lebih Baik, Tapi Tidak Stabil

Outlook WEF menggambarkan tahun 2026 sebagai fase transisi dengan gambaran sedikit lebih positif dibanding tahun lalu, namun dihiasi ketidakpastian struktural, risiko geopolitik, dan transformasi teknologi yang beragam dampaknya.

Sementara beberapa wilayah tampil kuat, terutama Asia Selatan, negara-negara maju belum menunjukkan sinyal konsisten perbaikan. Ketidakpastian di pasar aset dan tekanan utang global tetap menjadi faktor utama yang dapat menghambat pemulihan yang lebih luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *