Washington, D.C.. Laporan terbaru yang dirilis oleh International Monetary Fund (IMF) menempatkan Finlandia, Irlandia, dan Denmark sebagai negara-negara yang paling siap menghadapi transformasi dunia kerja di era teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Penilaian tersebut tercermin dalam Skill Readiness Index, sebuah indeks yang mengukur kesiapan negara dalam membekali tenaga kerjanya dengan keterampilan masa depan. Negara-negara Nordik dan Irlandia dinilai unggul karena investasi yang konsisten pada pendidikan tinggi serta program pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning), yang memungkinkan pekerja beradaptasi dengan perubahan teknologi secara berkelanjutan.
IMF menyoroti bahwa kesiapan keterampilan menjadi faktor kunci dalam menghadapi disrupsi teknologi, termasuk otomatisasi dan adopsi AI yang semakin cepat di berbagai sektor ekonomi. Negara dengan sistem pendidikan adaptif dan kebijakan pasar tenaga kerja yang inklusif cenderung lebih mampu menjaga produktivitas dan stabilitas sosial.
Tantangan Berbeda di Negara Berkembang dan Maju
Laporan tersebut juga menunjukkan kontras yang tajam di negara lain. Brasil dan Meksiko, misalnya, menghadapi kesenjangan antara tingginya permintaan keterampilan dan rendahnya pasokan tenaga kerja terampil. Kondisi ini menuntut peningkatan investasi pelatihan dan pendidikan vokasi agar pertumbuhan ekonomi tidak terhambat oleh keterbatasan kualitas sumber daya manusia.
Sementara itu, Australia dan Polandia dinilai memiliki ketersediaan talenta yang relatif melimpah, namun menghadapi tantangan berbeda: keterbatasan inovasi dan penciptaan lapangan kerja berkualitas tinggi untuk menyerap potensi tenaga kerja tersebut. Tanpa dorongan inovasi, kelebihan pasokan keterampilan justru berisiko tidak termanfaatkan secara optimal.
Implikasi Kebijakan Global
IMF menekankan bahwa transformasi dunia kerja tidak hanya persoalan teknologi, tetapi juga pilihan kebijakan publik. Negara yang gagal menyesuaikan sistem pendidikan, pelatihan tenaga kerja, dan kebijakan inovasi berisiko tertinggal dalam kompetisi ekonomi global.
Dalam konteks ini, kesiapan keterampilan menjadi indikator penting bagi ketahanan ekonomi jangka panjang, terutama ketika AI dan teknologi digital semakin memengaruhi struktur pasar kerja lintas negara.
Kanan atas → siap dan adaptif
Kanan bawah → butuh investasi pelatihan
Kiri atas → butuh inovasi
Kiri bawah → risiko struktural serius