Ketahanan pertumbuhan ekonomi global pascapandemi sering dipresentasikan sebagai kabar baik. Dunia, kata banyak laporan, berhasil melewati guncangan berlapis pandemi, perang, inflasi, dan pengetatan moneter tanpa jatuh ke jurang resesi besar. Namun di balik angka agregat yang tampak stabil itu, tersembunyi persoalan yang jauh lebih serius: pertumbuhan global yang tidak merata dan semakin menjauhkan negara berkembang dari pusat kemakmuran dunia.
Narasi “resiliensi global” berisiko meninabobokan pembuat kebijakan. Ketika pertumbuhan tetap positif secara global, kegagalan negara berkembang sering dipandang sebagai persoalan domestik semata akibat tata kelola lemah, kebijakan yang salah, atau kapasitas fiskal terbatas. Padahal, struktur ekonomi global hari ini justru memperkuat ketimpangan: negara maju memiliki ruang fiskal, akses pembiayaan murah, dan kapasitas teknologi yang jauh lebih besar untuk menyerap guncangan.
Bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, stabilitas global tidak otomatis berarti peluang. Pertumbuhan yang rendah namun stabil justru menjadi jebakan: cukup aman untuk mencegah krisis, tetapi terlalu lambat untuk menciptakan lapangan kerja, menaikkan produktivitas, dan mengurangi ketimpangan. Dalam kondisi ini, kemiskinan mungkin tidak melonjak drastis, tetapi juga tidak benar-benar turun secara signifikan.
Masalah lain yang sering diabaikan adalah sifat sementara dari “resiliensi” itu sendiri. Ketahanan ekonomi global saat ini banyak ditopang oleh faktor jangka pendek: penyesuaian rantai pasok, stimulus fiskal yang tertunda, serta strategi perusahaan dan pemerintah yang memajukan aktivitas ekonomi sebelum tekanan kebijakan meningkat. Ketika ruang fiskal menyempit dan kebijakan moneter tetap ketat, bantalan tersebut perlahan menghilang.
Jika tren ini berlanjut, negara berkembang menghadapi risiko ganda. Di satu sisi, mereka dituntut menjaga stabilitas makro di tengah keterbatasan fiskal. Di sisi lain, mereka harus menciptakan pertumbuhan yang inklusif dengan ruang kebijakan yang semakin sempit. Tanpa perubahan arah kebijakan global baik dalam perdagangan, pembiayaan pembangunan, maupun arsitektur keuangan internasional kesenjangan pertumbuhan berpotensi menjadi permanen.
Bagi pembuat kebijakan nasional, pesan dari situasi ini seharusnya jelas: stabilitas tidak cukup. Fokus kebijakan tidak bisa berhenti pada menjaga inflasi, defisit, atau nilai tukar tetap terkendali. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana memanfaatkan stabilitas tersebut untuk mendorong transformasi ekonomi meningkatkan produktivitas, memperluas basis industri, dan menciptakan pekerjaan berkualitas.
Resiliensi ekonomi global mungkin menyelamatkan dunia dari krisis besar. Namun tanpa strategi pertumbuhan yang lebih adil dan berpihak pada negara berkembang, resiliensi itu hanya akan memperpanjang ketimpangan. Dunia memang tidak runtuh, tetapi bagi banyak negara, jarak menuju kesejahteraan justru semakin menjauh.