Jakarta, Januari 2026 . Meski pertumbuhan ekonomi global menunjukkan ketahanan yang tak terduga setelah serangkaian guncangan sejak pandemi COVID-19, gambaran makro yang “stabil” ternyata menyembunyikan realitas yang tidak merata antara ekonomi maju dan berkembang. Analisis terbaru dari World Bank menunjukkan bahwa resiliensi pertumbuhan tidak serta merta berarti pemulihan yang inklusif atau berkelanjutan.
Dalam blog resminya, Chief Economist World Bank Indermit Gill menilai bahwa meskipun output global tidak runtuh di bawah tekanan berbagai krisis, laju pertumbuhan yang melambat justru tidak cukup untuk mengurangi kemiskinan ekstrem atau menciptakan lapangan kerja di tempat yang paling dibutuhkannya. Jika proyeksi dalam laporan Global Economic Prospects terwujud, rata-rata pertumbuhan dekade ini akan menjadi yang terendah sejak tahun 1960-an.
Jurang Ketimpangan Antara Negara Maju dan Berkembang
Menurut World Bank, meski ekonomi global diperkirakan terus tumbuh, gap antara negara maju dan berkembang kian melebar. Tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita di negara berkembang diperkirakan mencapai sekitar US$6.500 pada akhir tahun ini angka yang masih di bawah 12 % dari rata-rata negara maju. Untuk negara berpendapatan rendah, angka ini bahkan hanya sekitar US$700, atau kurang dari 1 % dari negara berpenghasilan tinggi.
Ketidakmerataan ini mencerminkan ketahanan semu: pertumbuhan masih terlihat kuat secara agregat, namun hanya beberapa negara menanggung laju peningkatan tersebut, sedangkan banyak negara berkembang tetap tertinggal jauh di belakang dalam hal pendapatan dan peluang ekonomi.
Faktor Risiko Kebijakan
Gill menekankan bahwa ketahanan yang tampak sebagian besar berasal dari manuver ekonomi sementara, seperti upaya perusahaan untuk mengimpor sebelum tarif naik dan pemerintah menjaga stimulus fiskal terbuka langkah-langkah yang tidak mudah diulang secara berkelanjutan.
Ia menyatakan bahwa jika negara-negara hendak mempercepat pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan, mereka harus mengadopsi kebijakan yang:
- Mendorong investasi swasta,
- Memperluas basis perdagangan yang sehat,
- Memperkuat disiplin fiskal, dan
- Meningkatkan daya tarik investasi produktif.
Implikasi Jangka Panjang
Ketidakmerataan pertumbuhan bukan hanya persoalan statistik. Risiko bagi pembuat kebijakan adalah meningkatnya ketimpangan, stagnasi sosial, dan tantangan pasar tenaga kerja, terutama di negara berkembang yang memiliki populasi muda yang besar dan kebutuhan lapangan kerja yang tinggi. Jika tren saat ini berlanjut, proyeksi pertumbuhan yang tampak “resilien” tidak akan cukup untuk meredam ketidakpuasan sosial dan tekanan ekonomi domestik.