Tokyo / Washington. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan kepedulian bersama atas depresiasi tajam yen, menyalakan spekulasi luas tentang kemungkinan intervensi pasar valuta asing oleh otoritas Tokyo dalam waktu dekat.
Katayama mengatakan setelah pertemuan bilateral di Washington bahwa ia telah menyampaikan “kekhawatiran mendalam tentang pelemahan satu arah yen”, dengan Bessent menyatakan pandangan yang sejalan terhadap pergerakan mata uang Jepang yang belakangan terus melemah. Pernyataan itu dianggap pasar sebagai dukungan tersirat dari AS terhadap langkah stabilisasi, termasuk intervensi jika diperlukan.
Yen Jepang telah melemah mencapai sekitar ¥159 terhadap dolar AS, level terendah sejak pertengahan 2024, didorong oleh spekulasi politik bahwa Perdana Menteri Sanae Takaichi akan mengumumkan pemilihan umum dini. Peluang electoral ini dipandang meningkatkan kemungkinan kebijakan fiskal ekspansif yang lebih besar, yang pada gilirannya mendorong sentimen pasar untuk melepaskan yen demi aset berisiko.
Risiko Kebijakan dan Pasar Global
Dalam konteks ini, pelemahan yen tidak hanya soal kurs mata uang. Ada tiga tantangan kebijakan yang saling terkait:
- Ketidakpastian Politik Domestik: Rencana pemilihan dini dan kemungkinan perluasan stimulus fiskal memperdalam ekspektasi pasar akan perbedaan kebijakan antara Jepang dan AS, memicu pelarian modal dari yen.
- Volatilitas Ekonomi Makro: Penurunan yen meningkatkan biaya impor Jepang, memperkuat tekanan inflasi domestik, dan menimbulkan kekhawatiran tentang daya beli rumah tangga.
- Kesenjangan Kebijakan Bank Sentral: Perbedaan arah kebijakan moneter antara Bank of Japan (BoJ) dan Federal Reserve bisa memperlebar yield gap, memperkuat tekanan pada yen dan memicu respons kebijakan yang lebih aktif.
Tekanan Intervensi dan Fundamental
Meski market watcher mencatat bahwa langkah intervensi penuh mungkin menunggu level teknis seperti ¥160 per dolar, pemerintah Jepang menyatakan kesiapannya mengambil “tindakan tepat” terhadap pergerakan valuta asing yang berlebihan, termasuk opsi pasar jika volatilitas terus tajam.
Pernyataan eksplisit dari pejabat senior, termasuk Deputi Sekretaris Kabinet Masanao Ozaki, memperlihatkan bahwa intervensi verbal telah melebihi fase biasa, tetapi belum sepenuhnya meredam depresiasi. Analis di sektor FX menilai bahwa jika tren melemah berlanjut dan fundamental ekonomi tidak berubah, otoritas bisa beralih dari sinyal verbal ke intervensi aktual di pasar FX.
Implikasi Jangka Menengah
Jika pemerintah Jepang benar-benar melakukan intervensi, dampaknya bisa lebih luas daripada sekadar stabilisasi yen:
- Pasar Global: Intervensi yen secara besar-besaran berpotensi memicu reaksi pasar global, termasuk di pasar obligasi dan ekuitas, dimana Jepang adalah pemain besar.
- Hubungan Kebijakan AS-Jepang: Tanda keharmonisan kebijakan kedua negara dapat mengubah dinamika perundingan perdagangan dan investasi.
- Persepsi Risiko Investor: Lonjakan intervensi bisa digunakan pasar sebagai indikator perubahan arah kebijakan makro Jepang yang lebih agresif, mempengaruhi arus modal jangka panjang.