Brussels, Januari 2026. Ekonomi Uni Eropa berhasil menghindari resesi pada 2025, meskipun tekanan geopolitik global terus meningkat. Namun hasil lebih baik dari harapan ini membawa konsekuensi ekonomi yang signifikan di balik angka pertumbuhan relatif stabil yang dicatat blok tersebut.

Dalam tulisan terbaru untuk World Economic Forum, Marieke Blom, Chief Economist dan Global Head of Research di ING Group, menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi Eropa sejauh ini tidak datang secara gratis. Menurut Blom, fragmentasi geopolitik, biaya pertahanan, dan hambatan perdagangan justru meningkatkan beban yang dipikul oleh sektor publik dan swasta.

Biaya Ketahanan yang Tak Terlihat

Blom mencatat bahwa Eropa telah mengalokasikan lebih banyak dana untuk belanja pertahanan, subsidi strategis, dan penguatan kapasitas ekonomi domestik respons terhadap ketidakpastian geopolitik setelah konflik di berbagai zona krisis dan meningkatnya proteksionisme global. Langkah-langkah semacam itu mengalihkan sumber daya dari investasi produktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan jangka panjang.

Dampaknya tidak hanya anggaran pemerintah. Perusahaan yang berbasis di EU juga menghadapi biaya operasional yang lebih tinggi akibat penyesuaian rantai pasok, kepatuhan regulasi baru, dan kebutuhan memperkuat ketahanan terhadap risiko eksternal. Biaya tersebut, meskipun kurang terlihat di headline statistik, mengikis margin keuntungan dan menekan investasi korporasi ke depan.

Resiliensi Tanpa Beban Pertumbuhan?

Resiliensi yang dicapai bukan tanpa trade-off. Pendekatan yang mengutamakan ketahanan membuat Eropa lebih tahan terhadap guncangan global, tetapi mengakibatkan teralihkan sumber daya yang semestinya digunakan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing jangka panjang. Hambatan perdagangan lintas blok, yang lebih tinggi, misalnya, turut memberi efek serupa pada efisiensi ekonomi.

Dampak pada Investasi dan Kompetitivitas

Biaya yang terus meningkat menjadi tantangan serius bagi pasar modal dan investasi asing. Dengan kenaikan biaya produksi dan risiko geopolitik, investor global cenderung menunggu kepastian yang lebih tinggi sebelum menanamkan modal, terutama dalam sektor teknologi dan manufaktur bernilai tambah tinggi. Efek jangka panjangnya bisa memperlambat pertumbuhan produktivitas Eropa dibandingkan pesaing global seperti Amerika Serikat atau Asia Timur.

Jalan ke Depan: Reformasi atau Fragmentasi

Menurut Blom, menjembatani antara kebutuhan ketahanan dan pertumbuhan memerlukan strategi kebijakan yang lebih cermat. Eropa harus mempertimbangkan reformasi struktural, memperkuat pasar internal, dan membuka kerja sama lintas blok yang lebih luas untuk menyeimbangkan tekanan geopolitik dengan kebutuhan daya saing global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *