Perang di Ukraina dan krisis struktural di Kuba tampak sebagai dua peristiwa yang jauh dari Indonesia, baik secara geografis maupun historis. Namun, jika dibaca lebih dalam, keduanya menyampaikan pesan yang sama dan relevan bagi negara berkembang: energi dan ketergantungan ekonomi adalah titik rawan paling strategis dalam politik global modern.
Serangan Rusia terhadap sistem energi Ukraina menunjukkan bahwa konflik kontemporer tidak lagi bertumpu semata pada perebutan wilayah atau kemenangan militer konvensional. Infrastruktur energi pembangkit listrik, jaringan distribusi, dan pasokan bahan bakar telah menjadi instrumen tekanan geopolitik yang efektif. Meski tidak sepenuhnya melumpuhkan kemauan Ukraina untuk bertahan, serangan ini berhasil meningkatkan biaya ekonomi, menekan kehidupan sipil, dan memaksa negara tersebut mengalihkan sumber daya dalam jangka panjang.
Sementara itu, kasus Kuba memperlihatkan sisi lain dari kerentanan energi dan ekonomi. Ketergantungan Havana pada Venezuela sebagai pemasok energi dan penopang ekonomi menjadikan stabilitas rezim di Caracas sebagai faktor eksternal yang menentukan nasib domestik Kuba. Melemahnya Venezuela bukan hanya memperburuk krisis ekonomi Kuba, tetapi juga membuka kembali tekanan perubahan rezim yang sebelumnya tertahan oleh dukungan eksternal. Di sini, energi bukan senjata yang diserang, melainkan penopang yang runtuh.
Ketahanan Energi sebagai Isu Kedaulatan Baru
Bagi Indonesia, dua kasus ini menyiratkan satu pelajaran kunci: ketahanan energi bukan lagi isu teknis, melainkan isu kedaulatan dan stabilitas politik. Indonesia memang tidak berada dalam konflik bersenjata seperti Ukraina, tetapi ketergantungan pada impor energi tertentu, fluktuasi harga global, dan tekanan geopolitik dapat menciptakan guncangan ekonomi yang serupa dalam bentuk yang berbeda.
Subsidi energi, misalnya, sering diperlakukan sebagai instrumen stabilitas sosial jangka pendek. Namun dalam konteks global yang makin tidak pasti, kebijakan ini juga menciptakan ketergantungan fiskal dan eksposur terhadap gejolak eksternal. Pengalaman Kuba menunjukkan bahwa ketika sumber dukungan eksternal melemah, ruang kebijakan domestik menyempit drastis.
Ketergantungan Ekonomi dan Risiko Kebijakan
Indonesia juga perlu membaca ulang relasi ekonomi internasionalnya dalam kacamata yang lebih strategis. Ketergantungan pada mitra dagang utama, sumber pembiayaan tertentu, atau aliran energi spesifik dapat menjadi kekuatan sekaligus kerentanan. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, perubahan rezim, sanksi ekonomi, atau konflik regional dapat dengan cepat mengubah peta kepentingan.
Kasus Ukraina memperlihatkan bagaimana tekanan eksternal dapat memaksa negara menata ulang prioritas ekonomi secara mendadak. Kasus Kuba memperingatkan bahwa ketergantungan yang terlalu terkonsentrasi dapat menciptakan efek domino ketika satu simpul utama runtuh. Bagi Indonesia, risiko ini tidak selalu berbentuk krisis politik langsung, tetapi bisa muncul sebagai tekanan fiskal, inflasi energi, atau perlambatan pertumbuhan yang berkepanjangan.
Membaca Masa Depan
Pelajaran terpenting bagi Indonesia adalah kebutuhan untuk menggeser orientasi kebijakan dari reaktif ke antisipatif. Ketahanan energi, diversifikasi sumber ekonomi, dan fleksibilitas kebijakan fiskal–moneter harus dipahami sebagai satu kesatuan strategi, bukan sektor yang berdiri sendiri.
Dalam lanskap global saat ini, negara yang mampu bertahan bukanlah yang paling kuat secara militer, melainkan yang paling adaptif dalam mengelola ketergantungan dan risiko sistemik. Ukraina dan Kuba, dengan cara yang berbeda, menunjukkan biaya dari kerentanan tersebut. Indonesia masih memiliki ruang untuk belajar—sebelum tekanan geopolitik global menjadikan energi dan ketergantungan ekonomi sebagai ujian nyata bagi stabilitas nasional.