Beijing — China disebut tengah memperbesar kapasitas jaringan fasilitas rahasia yang terkait dengan produksi komponen hulu ledak nuklir, berdasarkan analisis citra satelit oleh peneliti. Perluasan ini terjadi seiring percepatan modernisasi arsenal nuklir China dan upaya memperkuat kemampuan retaliasi (balasan) lebih cepat jika terjadi serangan. The Washington Post
Analisis tersebut menyoroti pembaruan infrastruktur pada lokasi-lokasi yang diduga berkaitan dengan rantai pasok hulu ledak dari komponen kunci hingga dukungan fasilitas sejalan dengan ekspansi stok nuklir China yang oleh sejumlah lembaga pemantau dinilai tumbuh paling cepat dibanding negara lain dalam beberapa tahun terakhir. SIPRI, misalnya, memperkirakan China memiliki setidaknya sekitar 600 hulu ledak pada awal 2025 dan menambahkan sekitar ~100 hulu ledak per tahun sejak 2023. SIPRI+1
Dari “second strike” ke kesiapan siaga?
Yang paling meningkatkan tensi bukan hanya jumlah, melainkan doktrin dan postur kesiapan. Sejumlah penilaian ahli yang dikutip dalam laporan menyebut Beijing memperkuat sistem yang memungkinkan respons lebih cepat mendekati konsep launch-on-warning (peluncuran saat peringatan dini), yang secara strategis menaikkan taruhan dalam krisis karena mempersempit waktu pengambilan keputusan dan memperbesar risiko salah-kalkulasi. The Washington Post
Mengapa ini penting untuk 5–10 tahun ke depan
Jika rantai produksi hulu ledak diperbesar bersamaan dengan pembangunan infrastruktur peluncur (misalnya perluasan silo dan dukungan komando), maka isu utama bergeser dari “berapa” menjadi “seberapa siap”. Kombinasi kapasitas produksi, peringatan dini, dan komando yang lebih terlindungi dapat mendorong perlombaan kesiagaan (readiness race) di Asia-Pasifik yang pada gilirannya meningkatkan tekanan pada agenda kontrol senjata, termasuk transparansi dan mekanisme pencegahan eskalasi. The Washington Post+2SIPRI+2
China selama ini menegaskan kebijakan nuklirnya bersifat defensif dan berada pada tingkat minimum yang diperlukan untuk keamanan nasional. Namun, perluasan fasilitas produksi dan modernisasi kesiapan balasan, bila berlanjut, akan terus memicu pertanyaan: apakah “minimum deterrence” masih menjadi definisi operasional, atau telah bergeser menjadi deterrence yang lebih siap dan lebih cepat. The Washington Post+1