Dili — Timor-Leste tercatat memiliki salah satu sovereign wealth fund terbesar di dunia relatif terhadap ukuran ekonominya. Petroleum Fund negara tersebut kini menampung lebih dari US$18 miliar, setara hampir 10 kali produk domestik bruto (PDB) tahunan Timor-Leste. Dana ini dibangun dari penerimaan minyak dan gas selama dua dekade terakhir.
Namun, di balik besarnya cadangan dana tersebut, Timor-Leste menghadapi persimpangan kebijakan yang menentukan masa depan ekonominya. Produksi minyak dan gas terus menurun, sementara defisit anggaran yang besar berisiko menguras Petroleum Fund sepenuhnya pada akhir dekade 2030-an, jika pola belanja saat ini berlanjut.
Di sisi lain, sekitar 1,3 juta penduduk Timor-Leste masih membutuhkan peningkatan signifikan dalam infrastruktur dasar, kualitas pendidikan, dan peluang ekonomi. Tantangan tersebut menempatkan pemerintah pada dilema klasik negara kaya sumber daya: bagaimana mengubah kekayaan alam menjadi kemakmuran jangka panjang.
Risiko Deplesi Dana dan Tekanan Fiskal
Menurut analisis yang disampaikan oleh International Monetary Fund, keberlanjutan Petroleum Fund sangat bergantung pada disiplin fiskal dan kualitas belanja publik. Tanpa perubahan kebijakan, tekanan dari belanja negara terutama belanja rutin dapat mempercepat penurunan nilai dana tersebut.
IMF menilai bahwa masalah utama bukan terletak pada besaran dana, melainkan bagaimana dan seberapa cepat dana tersebut dibelanjakan. Pola belanja yang tidak selektif berisiko menciptakan ketergantungan fiskal tanpa menghasilkan kapasitas ekonomi baru.
Pergeseran Prioritas Kebijakan
Dalam rekomendasinya, IMF mendorong Timor-Leste untuk membelanjakan dana secara lebih bijak dan bertahap. Fokus belanja disarankan dialihkan ke penguatan modal manusia, seperti pendidikan dan kesehatan, serta infrastruktur strategis yang dapat mendorong produktivitas jangka panjang.
Pada saat yang sama, pemerintah diingatkan untuk menahan laju pertumbuhan upah sektor publik yang dapat membebani anggaran, serta memperbaiki iklim investasi guna membuka ruang lebih besar bagi sektor swasta. Tanpa keterlibatan sektor swasta yang kuat, pembangunan berisiko bergantung sepenuhnya pada belanja negara.
Ujian Tata Kelola Kekayaan Negara
Kasus Timor-Leste menyoroti isu yang lebih luas dalam pengelolaan kekayaan sumber daya alam: besar kecilnya dana tidak otomatis menjamin kesejahteraan. Tanpa tata kelola fiskal yang hati-hati, dana kekayaan negara dapat berubah dari aset strategis menjadi sumber kerentanan jangka panjang.
Bagi Timor-Leste, dekade mendatang akan menjadi periode penentu apakah Petroleum Fund dapat menjadi fondasi kemakmuran berkelanjutan, atau justru menyusut tanpa meninggalkan basis ekonomi yang kuat bagi generasi berikutnya.