Kinerja saham Amerika Serikat yang tertinggal dari pasar global sepanjang 2025 bukan sekadar anomali pasar. Ia adalah peringatan struktural: dominasi finansial AS tidak lagi bekerja secara otomatis, dan dunia mulai bersikap lebih selektif terhadap risiko, valuasi, dan arah kebijakan ekonomi negara adidaya tersebut.

Bagi Indonesia, fenomena ini sering dibaca secara dangkal sebagai “peluang arus modal masuk”. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa modal global tidak pernah loyal ia hanya berpindah mencari kombinasi imbal hasil dan stabilitas terbaik. Ketika Wall Street melemah, bukan berarti emerging markets otomatis menjadi pemenang. Yang terjadi lebih sering adalah redistribusi risiko, bukan redistribusi kepercayaan.

Masalahnya, Indonesia masih terlalu sering merespons dinamika global dengan logika jangka pendek: apakah asing masuk atau keluar hari ini, apakah rupiah menguat minggu ini, atau apakah IHSG ditopang sentimen global. Cara baca seperti ini berbahaya, karena mengaburkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah struktur ekonomi Indonesia siap menghadapi dunia yang semakin tidak stabil dan terfragmentasi?

Kebijakan ekonomi Donald Trump yang kembali proteksionis mulai dari tarif hingga tekanan terhadap rantai pasok global—bukan hanya isu Amerika. Ia berpotensi memicu gelombang baru ketidakpastian perdagangan, tekanan harga, dan perlambatan investasi global. Dalam situasi seperti ini, ketergantungan Indonesia pada ekspor berbasis komoditas dan arus portofolio jangka pendek menjadi titik lemah yang tidak bisa terus disamarkan oleh stabilitas sesaat.

Lebih jauh, munculnya terobosan kecerdasan buatan dari China yang mengguncang narasi dominasi teknologi AS juga membawa pesan penting: pusat pertumbuhan ekonomi global semakin multipolar. Indonesia tidak bisa terus memosisikan diri sebagai penonton yang berharap limpahan modal dari satu kutub ke kutub lain. Tanpa strategi industrial dan teknologi yang jelas, Indonesia hanya akan menjadi “tempat parkir sementara” bagi modal global datang saat tenang, pergi saat badai.

Dalam konteks ini, tugas kebijakan moneter dan fiskal Indonesia bukan sekadar menjaga stabilitas jangka pendek, tetapi membangun ketahanan struktural. Bank sentral tidak cukup hanya “menenangkan pasar”, sementara kebijakan fiskal tidak bisa terus bergantung pada narasi pertumbuhan tanpa reformasi produktivitas. Dunia yang sedang berubah menuntut kebijakan yang lebih berani membaca arah, bukan sekadar bereaksi.

Wall Street yang tertinggal seharusnya tidak membuat Indonesia merasa aman. Justru sebaliknya, ini adalah momen untuk bertanya: jika pusat keuangan dunia saja mulai goyah, seberapa kokoh fondasi ekonomi kita sendiri? Tanpa perubahan cara membaca risiko global dan tanpa keberanian memperbaiki struktur ekonomi domestik, Indonesia berisiko kembali terjebak dalam siklus lama—optimisme sesaat yang berakhir pada koreksi menyakitkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *