Warna Media — Tahun 2025 dicatat sebagai tahun ketika pasar global dipaksa hidup dalam dua realitas sekaligus: gejolak besar akibat tarif perdagangan AS dan keuntungan besar di kantong-kantong aset tertentu. Rangkuman akhir tahun Financial Times menyebut 2025 sebagai periode yang “didominasi turbulensi” akibat tarif luas Presiden Donald Trump, namun tetap “sangat menguntungkan di area pasar yang tepat.” LinkedIn+1
Di balik fluktuasi harga dan narasi “ketidakpastian”, ada pola yang lebih dingin: tarif bukan sekadar kebijakan dagang, melainkan alat yang mengubah arus keuntungan, memindahkan rantai pasok, dan memaksa investor memilih pihak pemenang sering kali sebelum publik sempat memahami permainannya.
1) “Tahun Tarif”: Kebijakan yang Mengubah Peta Risiko
Sepanjang 2025, tarif AS menjadi pemicu guncangan awal tahun dan terus membayangi sentimen pasar. Financial Times bahkan menyebutnya sebagai the year of the tariff. Financial Times+1
Dampaknya tidak berhenti pada bursa: tekanan biaya, gangguan pasok, hingga restrukturisasi bisnis meningkat di beberapa sektor yang bergantung impor. Lonjakan kebangkrutan korporasi di AS juga dikaitkan dengan kombinasi suku bunga tinggi dan gangguan kebijakan dagang/tarif. The Washington Post
Sudut kebijakan: tarif bekerja seperti “pajak yang tidak selalu terlihat” dibayar bertahap lewat harga, margin, dan keputusan investasi.
2) Retaliasi dan Perang Tarif Menyebar
Tarif bukan cerita satu arah. Ketegangan dagang juga terlihat di front lain: China menetapkan bea masuk tinggi untuk produk susu Uni Eropa, memperpanjang rantai retaliasi dagang lintas kawasan. Financial Times
Implikasi: ketika tarif menjadi norma, pasar tidak lagi menghitung efisiensi semata, tetapi menghitung risiko geopolitik sebagai biaya permanen.
3) Pemenang yang Tidak Selalu Diundang: Perdagangan Berbelok ke Meksiko
Di tengah eskalasi tarif, Meksiko justru disebut sebagai salah satu penerima “diversi perdagangan” karena perbedaan tarif efektif dibanding China dan karena payung USMCA untuk sebagian besar ekspornya. The Wall Street Journal
Makna besarnya: perang tarif menciptakan pemenang baru lewat rerouting—bukan karena produktivitas tiba-tiba melonjak, tetapi karena jalur dagang dialihkan oleh kebijakan.
4) “Demam Emas” dan Dolar yang Melemah: Pelarian ke Aset Aman
Rangkuman FT menempatkan 2025 sebagai tahun “tariff turmoil, a gold rush and the sinking dollar”. LinkedIn
Sederhananya: ketika kebijakan memproduksi ketidakpastian, investor cenderung membayar mahal untuk “rasa aman”.
5) Pasar Saham AS Tetap Naik — Setelah Menelan Turbulensi
Meski dibuka dengan guncangan, laporan Associated Press menyoroti bahwa saham AS tetap menguat di 2025 setelah melewati turbulensi tarif dan konflik Trump dengan The Fed. Greenwich Time
Ini menguatkan satu pesan keras: pasar bisa naik bahkan ketika ekonomi-politik sedang gaduh, selama likuiditas, ekspektasi, dan sektor unggulan mengarah ke tempat yang sama.
Mengapa Ini Penting untuk Pembaca Indonesia
Bagi pembaca kebijakan di Indonesia, pelajaran 2025 bukan sekadar “cara mencari untung”, melainkan cara membaca peta kekuasaan:
- Tarif adalah instrumen politik yang menghasilkan konsekuensi ekonomi.
- Keuntungan pasar tidak menyebar merata; ia terkonsentrasi pada pihak yang paling cepat menyesuaikan rantai pasok, lindung nilai, dan posisi aset.
- Dalam era perang tarif, “stabilitas” bukan default ia menjadi barang mahal.