Reli harga emas yang mencetak rekor dalam setahun terakhir sering dirayakan sebagai bukti klasik bahwa emas kembali menjalankan perannya sebagai safe haven. Narasi ini terdengar nyaman: ketika dunia tidak pasti, investor berlindung pada emas. Namun narasi tersebut menutupi perubahan yang lebih mendasar dan problematis. Emas hari ini tidak lagi sekadar aset pelindung nilai; ia telah bertransformasi menjadi industri rente baru dalam sistem keuangan global.

Kenaikan harga emas memang menguntungkan pemiliknya. Tetapi keuntungan terbesar justru mengalir ke pihak yang menguasai infrastruktur: meja perdagangan, pembiayaan inventory, logistik lintas negara, dan terutama jasa penyimpanan (vaulting). Ketika volatilitas meningkat, biaya penyimpanan naik, volume transaksi melonjak, dan fee menjadi sumber pendapatan yang stabil. Dalam situasi ini, emas tidak lagi “diam” di brankas sebagai simbol kehati-hatian ia bekerja sebagai mesin profit.

Masalahnya bukan pada keuntungan itu sendiri, melainkan pada cara keuntungan tersebut dikonstruksi. Ketika bank dan trader berlomba menguasai rantai pasok emas, pasar safe haven berubah menjadi arena kompetisi agresif yang sarat kepentingan. Akses terhadap vault dan pembiayaan menentukan siapa yang bisa bermain dan siapa yang tersingkir. Di titik ini, emas berhenti menjadi penyangga ketidakpastian dan justru menjadi bagian dari arsitektur kekuasaan finansial.

Transformasi ini juga menimbulkan paradoks kebijakan. Emas dipromosikan sebagai pelindung stabilitas, tetapi industri di sekitarnya justru semakin terintegrasi dengan logika profit jangka pendek. Ketika penyimpanan dan distribusi emas terkonsentrasi pada segelintir pemain, risiko tidak lagi berada pada fluktuasi harga semata, melainkan pada ketergantungan sistemik terhadap infrastruktur privat yang minim pengawasan publik.

Lebih jauh, narasi safe haven sering digunakan untuk membungkam pertanyaan kritis. Siapa yang diuntungkan dari reli ini? Apakah publik mendapatkan perlindungan, atau justru menyubsidi ekosistem fee yang mahal? Ketika emas diperlakukan sebagai komoditas strategis sekaligus sumber rente, klaim netralitas pasar menjadi sulit dipertahankan.

Di sinilah peran regulator dan pembuat kebijakan diuji. Jika emas telah “naik kelas” menjadi industri rente, maka pengawasan tidak bisa lagi berhenti pada aspek perdagangan harga. Transparansi rantai pasok, konsentrasi kepemilikan vault, dan keterkaitan dengan sistem keuangan yang lebih luas perlu menjadi bagian dari agenda kebijakan.

Emas memang berkilau. Tetapi kilau itu kini memantulkan sesuatu yang lebih keras: pergeseran dari perlindungan nilai menuju akumulasi kekuasaan finansial. Mengabaikan perubahan ini berarti menerima begitu saja bahwa safe haven telah berubah menjadi ladang rente—dan publik kembali menjadi penonton.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *