Lonjakan pembelian emas oleh bank sentral dunia bukanlah anomali siklus, apalagi sekadar spekulasi aset aman. Ini adalah sinyal kebijakan yang tenang namun radikal: kepercayaan terhadap tatanan moneter global berbasis dolar sedang diuji dari dalam oleh para penjaganya sendiri.
Selama beberapa dekade, dolar AS berfungsi sebagai jangkar sistem keuangan internasional—bukan karena bebas risiko, tetapi karena dianggap paling dapat dipercaya. Namun, ketika bank sentral secara kolektif meningkatkan cadangan emas ke level tertinggi sepanjang sejarah, pesan yang muncul menjadi jelas: diversifikasi kini bukan pilihan, melainkan kebutuhan strategis.
Argumen bahwa pembelian emas didorong oleh “ketakutan gelembung” gagal menangkap inti persoalan. Bank sentral bukan pelaku pasar ritel yang mengejar momentum. Mereka bergerak berdasarkan risiko sistemik jangka panjang risiko sanksi geopolitik, politisasi sistem pembayaran, serta ketidakpastian fiskal negara penerbit mata uang cadangan utama. Dalam konteks ini, emas kembali diperlakukan bukan sebagai komoditas, melainkan aset kedaulatan.
Lebih jauh, tren ini mencerminkan pergeseran diam-diam dalam strategi cadangan devisa. Bank sentral tidak secara eksplisit mendeklarasikan “de-dolarisasi”, tetapi tindakan mereka berbicara lebih keras daripada pernyataan resmi. Akumulasi emas yang diperkirakan berlanjut hingga 2026 menunjukkan bahwa perubahan ini bersifat struktural, bukan reaktif.
Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, fenomena ini membawa dilema kebijakan. Di satu sisi, emas menawarkan perlindungan terhadap volatilitas global dan risiko nilai tukar. Di sisi lain, ketergantungan berlebihan pada aset non-yielding menuntut disiplin kebijakan moneter dan fiskal yang lebih ketat. Emas tidak menggantikan kredibilitas kebijakan ia hanya melindungi ketika kredibilitas itu rapuh.
Editorial ini memandang bahwa pembelian emas oleh bank sentral harus dibaca sebagai indikator stres sistem moneter global, bukan sekadar reli harga. Jika bank sentral—aktor paling konservatif dalam sistem keuangan memilih emas sebagai perlindungan, maka pertanyaan kebijakan yang lebih mendasar perlu diajukan: seberapa tahan sistem keuangan global terhadap fragmentasi geopolitik dan tekanan fiskal ke depan?
Diamnya bank sentral dalam menjelaskan motivasi strategis mereka justru memperkuat pesan tersebut. Dunia sedang bergerak menuju tatanan moneter yang lebih terfragmentasi, di mana kepercayaan tidak lagi diasumsikan, tetapi diamankan melalui aset nyata.
Dan ketika emas kembali menjadi pilihan utama, itu bukan nostalgia—melainkan peringatan.