Lonjakan harga emas sekitar 40 persen sepanjang 2025—kenaikan tahunan terbesar sejak 1979—tidak dapat dibaca semata sebagai fenomena pasar komoditas. Di balik pergerakan harga tersebut, tersimpan pergeseran strategis dalam kebijakan moneter dan pengelolaan cadangan devisa global, terutama melalui perilaku bank sentral.
Data menunjukkan bahwa bank sentral dunia membeli lebih dari 1.100 metrik ton emas dalam satu tahun. Angka ini menandai akselerasi tren akumulasi emas yang telah berlangsung sejak pasca-krisis keuangan global, namun kini memasuki fase baru dengan intensitas yang lebih tinggi. Dalam konteks ini, emas kembali menempati posisi strategis sebagai aset cadangan—bukan karena imbal hasilnya, melainkan karena fungsi stabilisasi dan kepercayaan yang melekat padanya.
Dari Instrumen Likuid ke Aset Kepercayaan
Secara teoretis, cadangan devisa berfungsi untuk menjaga stabilitas nilai tukar, membiayai impor, dan meredam gejolak eksternal. Selama beberapa dekade terakhir, fungsi tersebut didominasi oleh aset likuid berbasis mata uang kuat, terutama dolar AS. Namun, dinamika global mutakhir—ketegangan geopolitik, fragmentasi keuangan internasional, dan penggunaan sanksi ekonomi—telah mengubah cara bank sentral menilai risiko cadangan.
Emas, yang tidak memiliki risiko gagal bayar dan tidak terikat pada yurisdiksi tertentu, menawarkan karakteristik unik: netral secara politik dan tahan terhadap fragmentasi sistem moneter. Dalam konteks ini, peningkatan kepemilikan emas mencerminkan upaya bank sentral mengurangi eksposur terhadap risiko mata uang dan risiko institusional global.
Psikologi Kebijakan Moneter di Era Ketidakpastian
Dalam artikel yang dimuat di Finance & Development Magazine terbitan International Monetary Fund, Pratik Ghansham Salvi menekankan bahwa daya tarik emas tidak hanya bersumber dari faktor geologis, tetapi juga dari psikologi kolektif. Emas berfungsi sebagai jangkar kepercayaan ketika institusi dan instrumen keuangan modern menghadapi tekanan legitimasi.
Dari perspektif kebijakan moneter, fenomena ini mengindikasikan bahwa bank sentral tidak lagi semata-mata mengoptimalkan return dan likuiditas, tetapi juga memperhitungkan persepsi pasar dan ketahanan simbolik cadangan. Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, emas justru berperan sebagai pengingat batas kepercayaan terhadap sistem keuangan berbasis fiat dan teknologi.
Implikasi bagi Negara Berkembang dan Strategi Devisa
Bagi negara berkembang, peningkatan peran emas dalam cadangan devisa membawa implikasi kebijakan yang signifikan. Di satu sisi, emas memperkuat persepsi ketahanan eksternal dan kredibilitas moneter. Di sisi lain, emas bersifat kurang likuid dibandingkan aset keuangan, sehingga memerlukan keseimbangan yang cermat dalam manajemen cadangan.
Namun demikian, lonjakan harga emas pada 2025 menunjukkan bahwa nilai strategis emas tidak lagi sekadar defensif, melainkan juga antisipatif terhadap risiko sistemik global. Ketika ketidakpastian meningkat, preferensi bank sentral terhadap emas dapat dibaca sebagai sinyal kehati-hatian kolektif—bahkan ketidakpercayaan implisit—terhadap stabilitas jangka panjang sistem moneter internasional.
Membaca Sinyal ke Depan
Kembalinya emas dalam skala besar menandai fase baru dalam kebijakan cadangan devisa: dari optimisasi teknis menuju manajemen kepercayaan dan ketahanan sistemik. Jika tren ini berlanjut, emas tidak hanya akan menjadi aset lindung nilai, tetapi juga indikator awal perubahan rezim moneter global.
Bagi pembuat kebijakan, pesan utamanya jelas: pergerakan emas adalah sinyal, bukan sekadar harga. Ia mencerminkan bagaimana bank sentral membaca dunia yang semakin tidak pasti—dan bagaimana kebijakan moneter harus beradaptasi ketika kepercayaan menjadi variabel yang semakin langka.