Arab Saudi sedang menguji satu hal yang sering gagal di negara kaya komoditas: bertahan saat harga turun tanpa kembali ke pola stop–go. IMF menyebut jalannya jelas—reformasi dan diversifikasi harus berlanjut meski penerimaan minyak melemah. IMF
Tapi frasa “diversifikasi” sering menjadi kata yang terlalu mudah diucapkan. Dalam fase minyak murah, yang benar-benar menentukan bukan slogan, melainkan institusi fiskal dan disiplin prioritas: proyek mana yang benar-benar menciptakan produktivitas, dan mana yang hanya membakar anggaran demi simbol.
Menariknya, Saudi mulai memindahkan bahasa kebijakannya dari “berapa besar belanja” ke “apa yang dibelanjakan”, termasuk pengakuan bahwa defisit bisa “disengaja” untuk menjaga arah transformasi. Reuters menyebut pergeseran fokus menuju sektor seperti industri, logistik, teknologi, dan pariwisata—dan menjauh dari sebagian proyek real-estate raksasa yang mahal serta rentan molor. Reuters
Namun di titik ini, taruhannya menjadi lebih keras: bila proyek yang dipilih tidak memberi return tinggi, defisit akan berubah dari strategi menjadi beban. Dan di era harga minyak lebih rendah, ruang untuk salah langkah menyempit.
Jika Saudi benar-benar ingin membuktikan Vision 2030 bukan euforia saat boom, maka empat hal akan jadi penentu: pemilihan proyek berbasis imbal hasil, penguatan aturan fiskal, pendalaman pasar modal, dan pengembangan tenaga kerja—seperti yang ditekankan IMF. IMF+1