Fokus World Bank Group pada penciptaan lapangan kerja (jobs) dalam agenda 2025 mencerminkan perubahan paradigma pembangunan global: dari sekadar menjaga stabilitas ekonomi menuju menghasilkan pekerjaan produktif dan berkelanjutan. Pertanyaannya, sejauh mana pendekatan ini relevan dan aplikatif bagi Indonesia?
Indonesia: Stabilitas Ada, Masalah Pekerjaan Tertinggal
Dalam satu dekade terakhir, Indonesia relatif berhasil menjaga stabilitas makroekonomi—inflasi terkendali, defisit fiskal terjaga, dan sistem keuangan relatif stabil. Namun, capaian tersebut tidak sepenuhnya diterjemahkan menjadi kualitas pekerjaan yang lebih baik.
Tantangan utama Indonesia bukan sekadar jumlah lapangan kerja, melainkan:
- dominasi sektor informal,
- produktivitas tenaga kerja yang stagnan, dan
- ketidaksesuaian keterampilan (skills mismatch) dengan kebutuhan industri.
Dalam konteks ini, fokus jobs Bank Dunia sangat relevan, tetapi menuntut interpretasi kebijakan yang lebih spesifik dari sekadar pertumbuhan ekonomi agregat.
Risiko Jobless Growth dan Jobless Resilience
Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menciptakan pekerjaan berkualitas. Bahkan, pasca-pandemi, muncul risiko jobless recovery—ekonomi pulih, tetapi pasar kerja tertinggal.
Jika fokus kebijakan hanya pada stabilitas dan pertumbuhan makro tanpa reformasi struktural, Indonesia berisiko mengalami apa yang oleh Bank Dunia secara implisit diperingatkan sebagai jobless resilience: ekonomi tahan guncangan, tetapi tidak mampu menyerap tenaga kerja produktif.
Smart Development: Relevan, tetapi Tidak Otomatis
Konsep smart development—yang menekankan reformasi institusi, investasi selektif, dan pemanfaatan teknologi—selaras dengan kebutuhan Indonesia. Namun, tantangannya terletak pada implementasi.
Di Indonesia, reformasi sering berhenti pada:
- regulasi formal tanpa perubahan praktik,
- proyek infrastruktur tanpa integrasi industri,
- digitalisasi tanpa peningkatan keterampilan tenaga kerja.
Tanpa keterkaitan yang jelas antara kebijakan industri, pendidikan vokasi, dan insentif investasi produktif, smart development berisiko menjadi retorika kebijakan, bukan mesin penciptaan pekerjaan.
Jobs sebagai Tujuan Kebijakan, Bukan Efek Samping
Pesan utama Bank Dunia—bahwa jobs harus dirancang sebagai tujuan kebijakan—menjadi titik krusial bagi Indonesia. Ini berarti:
- kebijakan moneter dan fiskal tidak cukup dinilai dari stabilitas harga atau defisit,
- keberhasilan pembangunan perlu diukur dari penyerapan tenaga kerja produktif,
- dan kebijakan industri harus diarahkan pada sektor dengan employment multiplier tinggi.
Tanpa perubahan indikator keberhasilan ini, fokus jobs berisiko tereduksi menjadi program pelatihan terpisah yang tidak terhubung dengan struktur ekonomi riil.
Implikasi Kebijakan bagi Indonesia
Fokus jobs Bank Dunia relevan bagi Indonesia jika diterjemahkan ke dalam:
- Reformasi pasar tenaga kerja berbasis produktivitas, bukan fleksibilitas semata.
- Integrasi kebijakan industri, pendidikan, dan investasi, bukan pendekatan sektoral terpisah.
- Penajaman peran negara sebagai koordinator penciptaan ekosistem kerja, bukan hanya fasilitator pasar.
Tanpa prasyarat tersebut, agenda jobs berisiko menjadi narasi global yang tidak sepenuhnya operasional dalam konteks Indonesia.
Fokus jobs Bank Dunia relevan secara strategis bagi Indonesia, tetapi menantang secara implementatif. Tantangan terbesar bukan pada kurangnya kebijakan, melainkan pada kemampuan negara menerjemahkan stabilitas ekonomi menjadi pekerjaan yang produktif, layak, dan berkelanjutan.
Bagi Indonesia, pertanyaan ke depan bukan lagi apakah ekonomi stabil, melainkan siapa yang bekerja, di sektor apa, dan dengan produktivitas seperti apa.