Daftar film terbaik 2025 yang disusun The Economist tampak seperti katalog hiburan biasa—sampai kita membaca pola yang mereka tekankan: pendeta, revolusioner, dan vampir. The Economist
Ini bukan kebetulan estetika. Ini sinyal budaya: 2025 adalah tahun ketika sinema kembali memproduksi figur-figur yang selalu muncul saat masyarakat berada di ambang kecemasan—figur iman, perlawanan, dan “monster” yang tak pernah benar-benar mati.

Ambil “One Battle After Another”: film ini diposisikan sebagai salah satu film Hollywood paling “topikal” tahun ini—kisah aktivis revolusioner yang mencoba lari dari masa lalu, lalu dipaksa berhadapan dengan kebangkitan musuh lama dan bayang-bayang otoritarianisme. The Economist
Di sini, revolusioner tidak digambarkan sebagai pahlawan bersih; ia manusia yang letih, penuh bekas, dan tetap diburu sejarah. Narasi semacam ini muncul bukan karena sutradara ingin romantik, melainkan karena publik sudah terlalu sering menyaksikan satu kenyataan: masa lalu politik tidak pernah benar-benar selesai.

Lalu “Wake Up Dead Man”, instalmen baru dari waralaba “Knives Out”. The Economist menyoroti unsur satire dan teka-teki kriminalnya—dengan figur pendeta naif yang dituduh membunuh sesama rohaniwan. The Economist
Di tangan sinema, pendeta bukan lagi simbol kemurnian—melainkan arena konflik moral. Dan itu tepat menggambarkan iklim sosial: institusi yang dulu dianggap “penjaga nilai” kini kerap diuji, dipertanyakan, bahkan dicurigai. Ketika film menempatkan pendeta di pusat kecurigaan, yang sedang dibicarakan bukan agama—melainkan krisis otoritas.

Benang merah paling menggigit ada pada “Sinners”: film horor yang sekaligus period drama dan blues musical, menempatkan vampir dan kekerasan rasial dalam satu ruang cerita. The Economist
Vampir di sini bukan sekadar makhluk malam; ia metafora dari sesuatu yang terus hidup di bawah permukaan—trauma kolektif, kekerasan struktural, dan ketidakadilan yang mengulang diri dengan wajah berbeda. Ketika budaya populer membutuhkan vampir, itu biasanya berarti publik merasa ada sesuatu yang “menghisap” kehidupan sosial—pelan, sistematis, dan sulit ditunjuk satu pelaku.

Daftar The Economist juga memasukkan judul-judul yang memperlihatkan kecenderungan sinema 2025 untuk menukar “kejutan” dengan “kecemasan”: anak-anak menghilang serempak dalam “Weapons”, dan pelarian dari intrik politik korup dalam “The Secret Agent”. The Economist
Ini semua mengarah pada satu kesimpulan: film terbaik 2025 adalah film yang tidak sekadar menghibur, tetapi mengungkap mood zaman—ketidakpastian, paranoia institusional, dan rasa bahwa normalitas bisa runtuh kapan saja.

Policy Risk Note (Warna Media)

  • Risiko Normalisasi Otoritarianisme: Ketika “fasis” menjadi antagonis pop yang berulang, publik bisa kebal—menganggapnya sekadar genre, bukan ancaman kebijakan.
  • Risiko Krisis Otoritas Publik: Figur pendeta/otoritas moral dalam cerita kriminal mengindikasikan erosi kepercayaan pada institusi—berdampak pada legitimasi kebijakan.
  • Risiko “Monsterisasi” Konflik Sosial: Vampir/horor sering menjadi cara aman membicarakan ketidakadilan struktural; risiko terbesarnya adalah masalah nyata terasa seperti fiksi.
  • Risiko Kebijakan tanpa Imajinasi: Negara sering merespons krisis dengan angka, bukan narasi. Padahal budaya populer menunjukkan: publik hidup dalam narasi—dan narasi membentuk kepatuhan, resistensi, dan arah politik.

Film-film terbaik 2025—sebagaimana dibaca The Economist—bukan hanya daftar tontonan. Mereka adalah indikator suhu politik imajinasi publik: ketika pendeta dicurigai, revolusioner letih, dan vampir kembali lapar, itu pertanda masyarakat sedang mencari bahasa baru untuk menjelaskan ketakutan lama. The Economist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *