Lima puluh pertanyaan untuk menguji ingatan setahun penuh mungkin terdengar ringan. Namun Economist News Quiz edisi 20 Desember 2025 sejatinya melakukan sesuatu yang lebih serius: mengukur apa yang benar-benar tertinggal dalam memori publik dari satu tahun penuh krisis, keputusan, dan perubahan.

Dari geopolitik dan keuangan hingga sains dan budaya, pertanyaan-pertanyaan itu bukan sekadar trivia. Ia adalah arsip singkat tentang apa yang dianggap penting, apa yang diliput, dan apa yang—secara diam-diam—dilupakan. Di era banjir informasi, kemampuan mengingat bukan lagi soal kecerdasan individual, melainkan hasil seleksi kolektif: apa yang media tonjolkan, apa yang algoritma dorong, dan apa yang kebijakan prioritaskan.

Kuis tersebut mengungkap paradoks zaman ini. Informasi hadir tanpa henti, tetapi ingatan publik justru rapuh. Peristiwa besar berlalu cepat, digantikan oleh isu berikutnya. Krisis bergeser sebelum evaluasi selesai. Kebijakan diumumkan, dampaknya terasa, namun jarang ditinjau ulang secara sistematis. Ketika tahun ditutup dengan kuis, pertanyaan sesungguhnya bukan “berapa yang kita jawab benar”, melainkan berapa banyak yang sudah kita lupakan.

Bagi pembuat kebijakan, fenomena ini bukan hal sepele. Ingatan publik memengaruhi akuntabilitas. Apa yang diingat, dituntut. Apa yang dilupakan, diulang. Jika masyarakat hanya mengingat fragmen, maka ruang untuk kebijakan jangka pendek, tambal-sulam, dan simbolik menjadi lebih lebar.

Di sisi lain, kuis semacam ini juga menunjukkan peran media sebagai penjaga ingatan. Dengan memilih peristiwa mana yang layak diuji, media ikut menentukan kanon peristiwa tahun berjalan. Itu sebabnya, refleksi akhir tahun bukan sekadar hiburan, tetapi latihan demokrasi kognitif: mengingat agar bisa menilai.

Policy Risk Note (Warna Media)

  • Risiko Amnesia Kebijakan: Minimnya ingatan kolektif memperlemah evaluasi kebijakan dan mendorong pengulangan kesalahan.
  • Risiko Akuntabilitas Dangkal: Ketika peristiwa cepat dilupakan, tuntutan pertanggungjawaban ikut memudar.
  • Risiko Prioritas Semu: Apa yang sering muncul di ingatan publik belum tentu yang paling berdampak secara struktural.
  • Risiko Siklus Krisis: Tanpa memori institusional yang kuat, krisis berikutnya ditangani seolah-olah baru pertama terjadi.

Menutup tahun dengan kuis adalah pengingat yang jujur: dunia bergerak cepat, tetapi kebijakan membutuhkan ingatan panjang. Tanpa itu, refleksi berubah menjadi ritual, dan pelajaran 2025 berisiko menguap sebelum sempat membentuk keputusan 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *