“Our choice has displayed both courage and conviction.”
Kalimat ini terdengar mulia. Namun pada 2025, keberanian dan keyakinan yang dirayakan sebagai puncak kepemimpinan korporasi global justru lahir dari industri pertahanan, di tengah eskalasi konflik dan ketegangan geopolitik yang belum menunjukkan tanda mereda.

Pemilihan Armin Papperger, CEO Rheinmetall, sebagai “CEO terbaik” didasarkan pada ukuran yang sahih secara pasar: kinerja saham yang melampaui sektor, ekspansi bisnis agresif, dan kemampuan mengeksekusi peluang kebijakan dengan presisi. Dalam kerangka kapitalisme finansial, pilihan ini logis. Namun di sinilah persoalan publiknya bermula: apa yang sesungguhnya sedang kita legitimasi sebagai kepemimpinan unggul?

Rheinmetall tumbuh pesat bukan karena terobosan teknologi hijau, reformasi produktivitas, atau peningkatan kesejahteraan sosial, melainkan karena ledakan permintaan senjata. Perang dan ancaman perang telah menjadi katalis laba. Dalam konteks ini, keberanian bukanlah keberanian mengambil risiko inovasi, melainkan keberanian beroperasi di atas ketegangan global—dan keyakinan bukanlah visi sosial, melainkan keyakinan bahwa belanja negara akan terus mengalir.

Narasi ini menyingkap paradoks besar ekonomi politik modern: pasar memberi penghargaan tertinggi pada mereka yang paling mampu mengkapitalisasi ketidakstabilan. Ketika anggaran pertahanan meningkat, kontrak jangka panjang diamankan, dan urgensi politik mengunci permintaan, maka “kepemimpinan” berubah menjadi kemampuan membaca peta konflik, bukan peta kesejahteraan.

Pembelaan umum terhadap pilihan ini sering menyebut bahwa tata kelola tetap dijaga—bahwa kandidat lain tersingkir karena isu governance atau kinerja yang “hanya kebetulan”. Namun argumen ini justru memperjelas masalah: bahkan dengan tata kelola yang rapi, model bisnis berbasis konflik tetap dipromosikan sebagai standar keberhasilan. Transparansi internal tidak otomatis menjawab pertanyaan etis eksternal.

Lebih jauh, pemuliaan kepemimpinan semacam ini berisiko membentuk insentif jangka panjang. Jika CEO terbaik adalah mereka yang paling diuntungkan oleh eskalasi, maka stabilitas global menjadi kondisi yang tidak menguntungkan secara ekonomi. Di titik ini, kita tidak lagi berbicara tentang satu figur eksekutif, melainkan tentang arah evolusi kapitalisme—apakah ia melayani keberlanjutan, atau justru hidup dari krisis.

Editorial ini tidak menafikan kapasitas manajerial atau keteguhan personal Papperger. Namun memuji keberanian individu tanpa menimbang biaya kolektif adalah cara paling halus untuk menormalkan ekonomi konflik. Dan normalisasi inilah yang patut dipersoalkan oleh media kebijakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *