“Organisasi tidak runtuh karena kurangnya orang pintar, tetapi karena orang-orang pintar itu berjalan ke arah yang berbeda.”
Ambisi yang Berujung Kekacauan
Di awal 2024, Dimas, CEO muda PT E-Com Global Indonesia, tengah di puncak semangat. Penjualan e-commerce naik tajam, investor datang silih berganti, dan Dimas merasa inilah waktu yang tepat untuk memperluas tim.
Ia menambah staf dari 5 menjadi 20 orang — tanpa menambah lapisan manajerial. “Dengan banyak orang, kita bisa kerja lebih cepat,” pikirnya.
Namun, tiga bulan kemudian, ruang kantor berubah menjadi lautan kebingungan:
Tim IT bertanya siapa yang memimpin kampanye promosi.
Pemasaran menunggu keputusan yang tak kunjung datang.
Semua laporan menumpuk di meja CEO.
Dalam istilah manajemen, rentang kendali Dimas — jumlah bawahan langsung yang ia awasi — telah melewati batas efektif. Satu orang mengontrol dua puluh bawahan tanpa koordinator atau project manager.
Ketika Koordinasi dan Kontrol Tak Seimbang
Secara teori, koordinasi dan rentang kendali saling memengaruhi:
Jika koordinasi efektif, pengawasan bisa diperluas.
Jika koordinasi buruk, rentang harus dipersempit agar kontrol tetap efektif.
Dalam kasus E-Com Global, koordinasi justru terpecah. Semua orang melapor langsung ke Dimas tanpa jalur komunikasi vertikal. Akibatnya, keputusan tertunda dan keluhan karyawan meningkat.
“Tidak ada kejelasan tugas, tidak ada batas wewenang.”
Ini bukan sekadar masalah jumlah orang, melainkan struktur komunikasi yang tidak sehat.
Restrukturisasi: Dua Manajer yang Mengubah Arah
Menyadari kekacauan yang terjadi, Dimas mengambil langkah besar: ia membentuk dua manajer divisi, masing-masing memimpin IT dan Pemasaran.
Sekarang struktur menjadi: CEO → 2 Manajer Divisi → 20 Staf Alur kerja lebih jelas; setiap manajer mengoordinasikan 10 orang, dan laporan ke CEO lebih terarah.
Hasilnya nyata:
Komunikasi antar divisi menjadi lebih cepat.
Keluhan menurun drastis.
Produktivitas meningkat 35 % dalam dua bulan.
“Delegasi adalah bukan tentang melepaskan kendali, tapi mendistribusikan kendali agar lebih teratur.”
Pelajaran Manajerial: Koordinasi Adalah Fondasi Kendali
Kasus E-Com Global Indonesia menunjukkan bahwa efektivitas organisasi bukan sekadar tentang seberapa banyak staf yang Anda miliki, tetapi seberapa baik Anda mengatur hubungan di antara mereka.
Koordinasi yang kuat memungkinkan rentang kendali melebar tanpa kehilangan pengawasan, sementara koordinasi lemah memaksa manajer mempersempit pengawasan agar tidak kehilangan arah.
Keseimbangan ini ibarat rem dan gas pada mobil organisasi. Jika salah satunya tidak berfungsi, perjalanan akan berakhir dalam kekacauan.
Refleksi: Memimpin di Era Tim Digital
Kini perusahaan-perusahaan digital menghadapi tantangan serupa. Dalam dunia kerja jarak jauh dan tim lintas zona waktu, koordinasi menjadi kunci utama. Teknologi kolaborasi seperti Slack, Trello, atau Notion mampu memperluas rentang kendali tanpa menambah lapisan birokrasi.
Namun, teknologi tidak bisa menggantikan prinsip dasar:
“Koordinasi bukan sekadar berbagi informasi, melainkan menyatukan arah.”
Ringkasan Konseptual
Konsep
Koordinasi Efektif
Koordinasi Lemah
Rentang Kendali
Dapat lebih lebar karena pengawasan terbantu
Harus dipersempit agar kontrol efektif
Struktur Organisasi
Flat dengan delegasi jelas
Tall karena pengawasan harus ketat
Kinerja Tim
Komunikasi cepat & sinergis
Tumpang tindih tugas & konflik
Peran Manajer
Fasilitator dan koordinator arah
Pengawas mikro dan pengendali detail
Kisah PT E-Com Global Indonesia mengajarkan kita bahwa pertumbuhan organisasi tidak ditentukan oleh banyaknya orang, tetapi oleh bagaimana setiap orang terhubung dalam satu sistem kerja yang selaras.
“Manajemen bukan tentang mengatur orang lebih banyak, tetapi tentang menyederhanakan hubungan agar semua orang bergerak ke arah yang sama.”